Perburuan Gelar Juara Master Internasional di Japfa Chess Festival Kian Ketat

Perburuan Gelar Juara Master Internasional di Japfa Chess Festival Kian Ketat

KETIGA - Pecatur Medina Warda Aulia berada di urutan ketiga, disusul Yoseph keempat dari 12 peserta. Sedangkan atlet Filipina IM Pascua Haridas belum tergoyahkan di posisi puncak dengan torehan 6 poin. (SHNet/Nonnie Rering)

SHNet, JAKARTA – Ada tiga pecatur Indonesia yang cukup berpeluang menjadi yang terbaik di Turnamen Catur Japfa Chess Festival 2017, di Gedung Serbaguna, Senayan, Jakarta. Mereka adalah WGM Medina Warda Aulia, FM Novendra Priasmoro dan FM Yoseph Taher.

Poin yang dikumpulkan ketiganya hingga babak sembilan yang dipermainkan Kamis (18/5), masih sama, yakni 5,5 angka. Hanya saja, Novendra berhak menempati posisi kedua klasemen sementara di banding Medina dan Yoseph karena unggul sorkov.

Medina berada di urutan ketiga, disusul Yoseph keempat dari 12 peserta. Sedangkan atlet Filipina IM Pascua Haridas belum tergoyahkan di posisi puncak dengan torehan 6 poin. Pecatur dengan elorating 2.437 tersebut juga belum tersentuh kekalahan.

Selama sembilan babak, Haridas menang tiga kali dan enam kali remis. Sementara Medina selain berpeluang merengkuh juara, juga memiliki kesempatan mendapat norma master internasional (IM).

Ia hanya butuh satu kali remis untuk meraih norma itu. Sebenarnya, target draw diupayakan ketika melawan pecatur Vietnam IM Thanh Ninh Vo di babak sembilan. Namun Medina gagal mengimbangi, sehingga peluang meraih norma tinggal di babak sepuluh dan sebelas.

Pada ronde sepuluh, pecatur pelatnas tersebut menantang wakil Peru, WGM Deysi Cori Tello. Sedangkan di laga pamungkas bertemu akan pecatur India, IM Sagar Shah. “Saya butuh setengah poin saja agar mendapat norma itu, jadi harus main safety,” kata Medina.

Mengenai semua lawan yang sudah dihadapi kali ini, pecatur Filipina Pascua Haridas‎ dianggap paling berat. Namun ia bisa mengimbangi ketika bertemu Haridas di babak keenam. Justru, atlet 20 tahun tersebut dikalahkan rekan senegara, Novendra Priasmoro pada ronde pertama.

“Pecatur Filipina paling berat karena ratingnya paling tinggi. Kalau sama Novendra sempat unggul, tapi saya sering membuat kesalahan sendiri, jadinya kalah,” tuturnya.   (Nonnie Rering)