Cegah Infeksi Nosokomial di Pusat Kesehatan dengan Cuci Tangan

President Director PT B. Braun Medical Indonesia Stephan Soyka (kiri), Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia / Indonesian Society of Infection Control (PERDALIN / INASIC) dr. Ronald Irwanto, SpPD - KPTI (kedua kanan), mengikuti instruksi membersihkan tangan dari Director of Infection Control Program & WHO Collaborating Center on Patient Safety, University of Geneva Hospitals and Faculty Of Medicine Prof. Didier Pittet, MD, MS, CBE di Jakarta, Rabu (11/5). (SHNet/Job Palar)

SHNet, Jakarta – Pusat kesehatan, seperti Puskesmas, klinik kesehatan, dan rumah sakit, menjadi lokasi yang rentan terhadap Health Care Associated Infections (HCAIs) atau yang biasa disebut dengan infeksi nosokomial.

Ini merupakan infeksi yang menjangkiti pasien pada saat berada di sebuah rumah sakit. Hal tersebut dapat memperpanjang masa rawat inap, bahkan dapat menyebabkan kematian. Infeksi ini bisa juga dialami oleh para pekerja kesehatan itu sendiri sepeti dokter atau perawat yang terkena dampak dari pasien.

Untuk itu perlu dilakukan tindakan pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi. Salah satu cara pencegahan yang terbukti efektif adalah dengan cuci tangan dengan menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol.

Bukan hanya pasien, menurut Ronald Irwanto, Sekjen Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (PERDALIN), semua orang yang ada di rumah sakit berpotensi untuk mengalami HCAIs.

“Karena itu, kebiasaan mencuci tangan dengan cairan berbasis alkohol ini perlu dilakukan oleh semua orang yang ada di rumah sakit. Cairan pembersih berbasis alkohol ini dipilih karena terbukti paling efektif membunuh kuman dan lebih praktis,” kata Ronald Irwanto saat memperkenalkan  kampanye global Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan tema “SAVE LIVES: Clean Your Hands” bersama B.Braun Medical Indonesia di Jakarta, Rabu (10/5).

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada 500 .000 orang setiap harinya yang terinfeksi HCAIs dan 16 juta yang meninggal setiap tahunnya akibat infeksi HCAIs. Angka tersebut tentu saja bukan angka yang sedikit.

Untuk mengurangi angka tersebut, WHO, mengkampanyekan pentingnya menjaga kebersihan tangan, yang bertajuk “SAVE LIVES: Clean Your Hands”. Hal tersebut lantaran cuci tangan telah dibuktikan oleh berbagai penelitian dapat mencegah terjadinya HCAIs.

“Dengan kampanye ini, kita dapat menyelamatkan lima hingga delapan juta orang dari infeksi. Maka dari itu, diharapkan semua fasilitas kesehatan di Indonesia turut berpartisipasi dalam menjalankan kampanye ini,” kata Prof. Didier Pittet, Director of Infection Control Programme and WHO Collaborating Center on Patient Safety, University of Geneva Hospitals and Faculty of Medicine.

Masih tingginya angka infeksi HCAIs bisa disebabkan oleh rendahnya kepatuhan tenaga kesehatan di Indonesia dalam hal mencuci tangan. Tercatat tingkat kepatuhannya hanya 20 hingga 40 persen. Untuk itu, pemerintah tidak bosan untuk terus mengkampanyekan pentingnya mencuci tangan saat berada di lingkungan rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.

“Kementerian Kesehatan telah membuat peraturan tegas terkait kewajiban mencuci tangan ini. Namun yang harus lebih digalakkan adalah edukasi kepada tenaga kesehatan akan pentingnya cuci tangan,” kata Ronald.

Karena itu, rumah sakit diwajibkan menyediakan cairan berbasis alkohol di setiap sudut fasilitas kesehatan dan memasang poster-poster peringatan cuci tangan di lingkungan rumah sakit agar tidak ada lagi alasan lupa untuk mencuci tangan.

B.Braun sebagai anggota Private Organizations for Patient Safety (POPS) berkomitmen untuk mendukung kampanye WHO “SAVE LIVES: Clean Your Hands”, dengan cara memberikan edukasi kepada tenaga kesehatan mengenai pentingnya cuci tangan untuk mencegah infeksi HCAIs.

“Kami juga menyediakan produk disinfektan tangan berbahan alkohol sebagai upaya untuk mencegah dan melindungi tangan dari segala penyebaran infeksi,” kata Stephan Soyka, President Director PT. B.Braun Medical Indonesia.