Autism Tidak Sama dengan Gangguan Jiwa

Autism tidak sama dengan gangguan jiwa. (Ist)

SHNet, Jakarta – Ketua Yayasan Autisma Indonesia Melly Budhiman menegaskan autism tidak sama dengan gangguan jiwa.

“Stigma autism yang melekat yaitu gangguan jiwa adalah tidak benar. Dan hal itu harus dihilangkan di tengah masyarakat. Solusinya adalah sosialisasi dan kerjasama semua pihak, “ imbuh Melly yang juga merupakan dokter spesialis kedokteran jiwa dan psikiatri anak ini mengingatkan.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Siloam, Eva Suryani, Sp. KJ., turut mengingatkan bagi para orang tua yang memiliki anak pengidap autisma agar konsisten dalam mengobati anak. “

Salah satu tugas dokter adalah menjelaskan kepada orang tua soal porsi pemberian obat dan efek samping dari pengobatan tersebut. Dan saya selalu mengingatkan agar selalu ada komunikasi diantara dokter dan orang tua terkait perkembangan sang anak,” papar Eva saat berbincang dengan awak media, kemarin.

Akan mengenali ciri Autisme pada anak, menurut Eva, autisme sudah bisa didiagnosis pada anak dengan rentang usia 0-3 tahun. Setidaknya ada tiga tanda-tanda penting untuk mendeteksi autisme. Pertama adalah kesulitan bahasa (bicara), interaksi sosial dan melakukan gerakan terbatas serta pengulangan.

Anak yang memiliki gangguan autisme biasanya tidak merespon ketika namanya dipanggil, lebih suka menyendiri, tidak suka dipeluk, tidak ada kontak mata, serta sering melakukan gerakan berulang-ulang.

Eva pun mengingatkan bahwa diagnosis autisme anak sejak dini bisa bermanfaat bagi para orangtua. “Sebenarnya kalau kita bisa kenali sejak dini, penanganannya juga bisa lebih awal,” pungkas dokter dari RS Siloam Karawaci Tangerang ini.

Siloam Hospitals Grup bersama Harian Kompas mengadakan Forum Diskusi Kesehatan dengan Tema : Kenali dan Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Autisma.

Dipilihnya tema diskusi ini bertujuan agar penangan pada tumbuh kembang Anak dengan Autisma dapat tersosialisasi dengan baik serta menyeluruh. (Stevani Elisabeth)