Produksi Pangan NTT Tergantung Kecukupan Air

Produksi Pangan NTT Tergantung Kecukupan Air

Ibrahim Agustinus Medah (Kanan) dan Dosen Fakultas Pertanian UKAW Kupang, Zet Malelak saat dialog di Studio RRI Kupang, Selasa (16/5) malam

SHNet, KUPANG-Persoalan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat identik dengan tiga elemen penting yakni ketersediaan air, perluasan lahan pertanian, dan tenaga pendamping petani. Berbicara tentang masalah pangan, maka setidaknya ada tiga aspek yang harus diperhatikan yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan kestabilan pangan.

Calon Gubernur dari Partai Golkar, Ibrahim Agustinus Medah mengatakan curah hujan di wilayah NTT normalnya hanya tiga bulan. Sedangkan sembilan bulan adalah musim kemarau yang mengakibatkan krisis air dan berdampak pada gagal tanam dan gagal panen.

Atas dasar itu, anggota DPD RI asal NTT ini meminta Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman untuk membangun 3.000 embung atau 10 persen dari program nasional 30 ribu embung di tahun 2017. Namun, jumlah itu belumlah cukup jika satu desa hanya dibangun satu embung. Idealnya, satu dusun satu embung karena kondisi topografi NTT yang berbukit-bukit.

“Membangun embug tidak hanya bergantung pada APBN. APBD yang cukup harus mengalokasikan sekian persen untuk membangun embung. Embung kecil harus dibangun disetiap dusun agar ketersediaan air menjadi cukup. Harus bangun 3000 embung di NTT sesuai dengan jumlah desa,” kata Medah saat dialog secara live dari RRI Pusat dengan topik Masalah Ketersediaan Pangan di NTT, Selasa (16/5) malam.

Jika petani gagal panen maka produktifitas rendah dan ketersediaan pangan tidak cukup. Sekitar 80 persen penduduk NTT bekerja sebagai  petani. Jika petani gagal tanam dan gagal panen maka akan berpengaruh terhadap ketersediaan pangan. Dengan demikian, berbicara tentang masalah ketahanan pangan maka kesejahteraan petani harus tercapai.

Menurut Medah, sekitar 3000 hektar lahan tidur di NTT yang belum difungsikan sehingga harus ada intervensi dari pemerintah untuk membuka lahan yang seluas-luasnya. Kesulitan yang dialami petani setiap tahun adalah mengolah lahan karena kekurangan fasilitas pertanian. Kemampuan petani untuk mengolah lahan tidak lebih dari 1,5 hektare. Semakin luas lahan tanaman yang tersedia, maka semakin banyak hasil produksi pertanian yang akan berdampak positif bagi ketersediaan pangan.

“NTT mempunyai potensi pertanian yang luar biasa dan ekonomi ada di sektor pertanian, sayangnya belum dikembangkan secara maksimal. Produksi pangan di NTT sangat tergantung pada kecukupan air.  Inilah yang menyebabkan NTT dilanda kemiskinan,” jelas Medah.(Dis Amalo)