Penghargaan Penelitian, Memacu Perguruan Tinggi Mengembangkan Riset

Penghargaan Penelitian, Memacu Perguruan Tinggi Mengembangkan Riset

Jumlah peneliti Indonesia masih sangat minim. Data dari UNESCO tahun 2016 menyebutkan bahwa kuantitas periset di negeri ini adalah yang paling sedikit di antara negara-negara anggota G-20.

Rasio jumlah periset di Indonesia sangat jauh tertinggal dengan Singapura. Dimana Indonesia hanya memiliki 89 peneliti untuk per 1 juta penduduk, sedangkan Singapura yang memiliki 6.658 peneliti per 1 juta penduduk.

Selain jumlahnya yang minim kualitas peneliti di Indonesia juga dinilai masih belum memadai. Hal ini bisa dilihat dari jumlah publikasi ilmiah periset lokal yang masih tertinggal dari negara tetangga.

Sumber artikel The Jakarta Post tahun 2015 menyebutkan Universitas Gadjah Mada memperoleh angka tertinggi dalam penelitian jurnal ilmiah dengan jumlah 16.809 di antara perguruan tinggi di Indonesia. Namun angka tersebut kurang dari setengah penelitian yang dihasilkan oleh Chulalongkorn University, Thailand, dan hanya sebagian kecil dibandingkan National University of Singapura, yang berjumlah 41.9702.

Kenyataan ini cukup memprihatinkan mengingat penelitian berperan besar dalam memajukan suatu bangsa.

Dalam rangka mendukung pemerintah Indonesia yang menargetkan 6.000 hingga 6.500 penelitian untuk dipublikasikan, Tanoto Foundation membuat Tanoto Student Research Award (TSRA) yang telah digelar sejak tahun 2007.

Tanoto Student Research Award mendorong para mahasiswa di perguruan tinggi di Indonesia untuk melakukan penelitian aplikatif yang bisa langsung diterapkan di kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini, TSRA telah mendukung lebih dari 440 penelitian dari lima perguruan tinggi mitra, yaitu Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Indonesia.

“Tanoto Student Research Award mendorong pengembangan aplikasi pengetahuan di perguruan tinggi untuk menjadi produk yang bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Sihol Aritonang, Ketua Pengurus Tanoto Foundation.

“Dari sini, kita bisa lihat berbagai macam produk inovatif yang berguna bagi masyarakat. Mahasiswa dari UI misalnya, mereka membuat drone  yang bisa digunakan untuk sistem pertanian agar lebih presisi. Atau inovasi mahasiswa IPB yang mendaur ulang pelepah kelapa sawit untuk dijadikan bahan bangunan yang ekonomis dan kuat”, lanjut Sihol.

Ujang Suwarna, Kepala Sub Direktorat Minat, Bakat, dan Penalaran Institut Pertanian Bogor, mengapresiasi program TSRA ini, yang memberikan efek positif pada kreatifitas para mahasiswa.

Tahun ini, beberapa peneliti hasil dukungan TSRA berkesempatan memamerkan karyanya di depan publik, di antaranya:

  1. Emergency Assistance Box – Universitas Indonesia
  2. Precision Farming System Menggunakan Drone – Universitas Indonesia
  3. Jamur Omnivora Pendegadrasi Plastik – Universitas Sumatera Utara
  4. Alat Pengontrol Kadar Gula Darah Melalui Urine – Universitas Sumatera Utara
  5. Prototipe Olahan Limbah Usaha Batu Alam – Institute Teknologi Bandung
  6. Pengelolaan Sampah Sebagai Bahan Bakar Alternatif Industri Semen – Institute Teknologi Bandung
  7. Pembuatan Produk Souvenir Berbahan Baku Bambu Laminasi – Universitas Hasanuddin
  8. Teknologi Formulasi Bakteria untuk Bioindustri Pertanian – Universitas Hasanuddin
  9. Papan Zephyr dari Pelepah Sawit – Institut Pertanian Bogor
  10. Silvator, Mesin Pelubang Tanah untuk Pertanian – Institut Pertanian Bogor