Analisis Symantec: 2016 Catatkan Angka Tertinggi Kejahatan Siber

Dari Perampokan Online Hingga Kejahatan Didukung Negara

Analisis Symantec: 2016 Catatkan Angka Tertinggi Kejahatan Siber

SHNet, Jakarta – Para pelaku kejahatan dunia maya (siber) sepanjang tahun 2016 melakukan kejahatan siber dengan sangat signifikan. Perusahaan antivirus, Symantec, mengingatkan terjadinya serangan sporadis terhadap negara maupun email individu.

Symantec menemukan bahwa satu dari 131 email berisi tautan atau lampiran berbahaya. Ini merupakan angka tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Serangan bisa bervariasi, bisa dari “perampokan online” terhadap perbankan secara virtual yang merugikan hingga jutaan dolar AS, hingga ke pemilihan umum suatu negara.

“Kelompok-kelompok kejahatan siber ini. didukung penuh oleh negara tertentu (state-sponsored). Contoh nyatanya., saat proses pemilu Presiden AS tahun lalu,” kata Senior Director Systems Engineering Asia Pasific Symantec, Sherif El-Nabawi, di Jakarta, Rabu (10/5).

Senior Director, Systems Engineering, Asia Pacific Symantec Sherif El-Nabawi menjelaskan berbagai perkembangan terkait kejahatan siber di Jakarta, Rabu (10/5). (SHNet/Job Palar)
Senior Director, Systems Engineering, Asia Pacific Symantec Sherif El-Nabawi menjelaskan berbagai perkembangan terkait kejahatan siber di Jakarta, Rabu (10/5). (SHNet/Job Palar)

Symantec berhasil mengidentifikasi pola serangan seperti ini. Namun, kerusakan dan tingkat gangguan yang disebabkan ternyata belum pernah terjadi sebelumnya.

Keberhasilan mengidentifikasi serangan-serangan siber ini membuat perusahaan keamanan cyber terkemuka di dunia ini fokus pada eksploitasi terhadap tools-tools IT, serta layanan-layanan komputasi awan yang relatif sederhana.

Sherif memaparkan, dukungan negara yang terang-terangan terhadap kejahatan siber merupakan kali pertama. Ia menyebutkan, Symantec menemukan bukti kejahatan siber terkoneksi kuat dengan Korea Utara, yang menyerang sistem IT perbankan di Bangladesh, Ekuador, Vietnam, dan Polandia.

Inilah yang mendorong Symantec mengembangkan Internet Security Threat Report untuk memberikan gambaran dan analisis selama setahun tentang aktivitas ancaman global.

Laporan ini berdasarkan data dari Global Intelligence Network Symantec, yang digunakan oleh para analis Symantec untuk mengidentifikasi, menganalisis dan memberikan penjelasan tentang tren-tren ancaman yang sedang berkembang dalam hal serangan, aktivitas kode berbahaya, phishing, dan spam.

“Tahun lalu, kami menemukan para pelaku kejahatan siber menggunakan PowerShell, yakni bahasa scripting umum yang terpasang pada PC dan file-file Microsoft Office sebagai senjata,” kata Sherif.

Ia melanjutkan, mengingat semakin luasnya penggunaan PowerShell oleh para penjahat siber, 95 persen file PowerShell yang diamati Symantec di dunia maya adalah file berbahaya.