Tiga Program Unggulan Kemenpar 2017 untuk Merebut Pasar

Tiga Program Unggulan Kemenpar 2017 untuk Merebut Pasar

Digital tourism menjadi salah satu dari tiga program unggulan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) 2017. (Ist)

SHNet, Jakarta- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun ini memiliki tiga program unggulan untuk merebut pasar. Top 3 program Kemenpar itu yakni; digital tourism, homestay desa wisata, dan aksesibilitas udara diterapkan tahun ini.

Penerapan digital tourism menjadi keniscayaan sebagai strategi untuk merebut pasar dalam persaingan global. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengingatkan, kondisi pasar sudah berubah.

“Hampir 63% transaksi jasa travel dilakukan secara online sehingga bila travel biro tidak segera menyesuaikan diri ke digital atau tetap konvensional maka nasibnya akan seperti Wartel (Warung Telekomunikasi),” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (10/4).

Perubahan pasar ini dipengaruhi oleh gaya hidup wisatawan juga berubah. Wisatawan dalam melalukan perjalanan (travelling) tak lepas dari digital; mulai dari mencari dan melihat-lihat informasi (look), kemudian memesan paket wisata yang diminati (book) hingga membayar secara online (pay). Sekitar 70% wisman melakukan search and share menggunakan media digital.

Digital tourism, menurut Menpar, menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 fokus pasar yang tersebar di 26 negara. Program digital tourism ini dimulai dengan meluncurkan ITX (Indonesia Tourism Exchnage).

ITX merupakan platform digital market place dalam ekosistem pariwisata atau sebagai pasar digital yang mempertemukan buyer dan seller dimana semua travel agent, akomodasi, atraksi dikumpulkan untuk dapat bertransaksi. ITX yang disediakan PT Telkom ini tampilannya seperti search engine atau mesin pencari; ada look-nya, pemesanan (book), maupun bayar (payment) dan dapat diakses lewat smarphone sehingga mudah bagi para pengguna atau user termasuk homestay desa wisata.

Program homestay desa wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini merupakan kontribusi Kemenpar terhadap pendukungan program 1 juta rumah terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dibuat Kementerian PURR. Kemenpar berkontribusi membangun 100.000 rumah (homestay) yang dikaitkan dengan konsep desa wisata sebagai amenitas akan dikembangkan pada 2019. “Untuk memenuhi kebutuhan amenitas di 10 destinasi prioritas dalam waktu cepat adalah membangun homestay desa wisata,” kata Arief Yahya.

Kemenpar tahun lalu mensayembarakan desain homestay desa wisata dan hasil karya para pemenang sayembara tersebut dijadikan sebagai model homestay desa wisata di 10 destinasi prioritas (Danau Toba; Tanjung Kelayang; Tanjung Lesung; Kepulauan Seribu; Candi Borobudur; Bromo Tengger Semeru; Mandalika; Labuan Bajo; Wakatobi; dan Morotai)

“Tahun 2017 kami mentargetkan membangun 20.000 homestay (pondok wisata), tahun 2018 sebanyak 30.000, dan tahun 2019 sebanyak 50.000 unit. Sebagai quick win dalam waktu dekat dibangun 1.000 homestay di 10 destinasi prioritas di antaranya Mandalika dan Borobudur dan destinasi lainnya di antaranya,”tuturnya.

Sementara itu program aksesibiltas udara merupakan program strategis yang harus diwujudkan tahun ini. Sekitar 80% kedatangan wisman ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sehingga tersedianya seat pesawat (seat capacity) yang cukup menjadi kunci untuk mencapai target 2017 hingga 2019 mendatang.

Tersedianya kapasitas seat sebanyak 19,5 juta oleh perusahaan maskapai penerbangan (airlines) Indonesia dan asing saat ini, menurut perhitungan Menpar, hanya cukup untuk menenuhi target kunjungan 12 juta wisman pada 2016, sedangkan untuk target 15 juta wisman tahun 2017 membutuhkan tambahan 4 juta seat.

Untuk target 18 juta wisman tahun 2018 membutuhkan tambahan 3,5 juta seat atau menjadi 7,5 juta seat, sedangkan untuk mendukung target 20 juta wisman pada 2019 perlu tambahan 3 juta seat atau menjadi 10,5 juta seat pesawat. (Stevani Elisabeth)