Sosialisasi Kebijakan Kemenpar Bagi Jurnalis Greater Bali

Sosialisasi Kebijakan Kemenpar Bagi Jurnalis Greater Bali

Sekretaris Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ukus Kuswara (kedua dari kiri) saat memaparkan kebijakan Kemenpar pada Workshop Sosialisasi Kebijakan Kemenpar bagi Jurnalis Greater Bali. (Ist)

SHNet, Bali– Sekretaris Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ukus Kuswara membuka sekaligus menjadi pembicara pada acara “Workshop Sosialisasi Kebijakan Kemenpar bagi Jurnalis Greater Bali” yang berlangsung di Rani Hotel Kuta, Bali, kemarin.

Kegiatan workshop yang mengangkat tema “Kebijakan Pengembangan Pariwisata 2017: Go Digital, Homestay, dan Aksesibilitas” diselenggarakan oleh Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan peran serta jurnalis dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat tentang kebijakan dan program pemerintah di bidang pariwisata dalam upaya mewujudkan target kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 265 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Tanah Air pada tahun ini dan akan meningkat menjadi 20 juta wisman dan 275 juta wisnus pada 2019 mendatang.

Kegiatan workshop yang berlangsung satu hari ini menghadirkan sejumlah narasumber antara lain; Ida Bagus Abdhi (Staf Ahli Direksi Indonesia Tourism Development Corporation) M. Noer Sadono (Staf Khusus Menteri bidang Komunikasi dan Media) dan Anak Agung Gede Yuniartha (Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali).

Ukus mengatakan, kunci keberhasilan pembangunan kepariwisataan nasional, sebagaimana disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam berbagai kesempatan, tidak lepas dari peran serta semua pemangku kepentingan (stakeholder) yaitu; kalangan akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media sebagai kekuatan Pentahelix.

“Kerjasama semua unsur pariwisata ini sebagai Indonesia Incorporated menjadi kekuatan dalam mewujudkan pariwisata sebagai leading sector perekonomian nasional,” ujarnya.

Program pemerintah dalam pembangunan lima tahun ke depan akan fokus pada sektor; infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata. Penetapan kelima sektor ini dengan pertimbangan signifikansi perannya dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang terhadap pembangunan nasional.

Dari lima sektor tersebut pariwisata ditetapkan sebagai leading sector karena dalam jangka pendek, menengah, dan panjang pertumbuhannya positif. Hal ini terlihat peran pariwisata dunia dalam memberikan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global mencapai 9,8%; kontribusi terhadap total ekspor dunia sebesar US$ 7,58 triliun dan foreign exchange earning sektor pariwisata tumbuh 25,1%; serta pariwisata membuka lapangan kerja yang luas yakni 1 dari 11 lapangan kerja ada di sektor pariwisata.

Pertumbuhan pariwisata dunia tersebut memberi dampak positif terhadap pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo mentargetkan pertumbuhan pariwisata nasional dua kali lipat pada 2019. Tahun 2019, pariwisata ditargetkan memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8%, devisa yang dihasilkan Rp 280 triliun, menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, jumlah kunjungan wisman 20 juta dan pergerakan wisnus 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.

“Untuk mencapai target pariwisata 2019, Kemenpar menerapkan kebijakan dan program prioritas yang dilaksanakan tahun ini yakni; digital tourism, homestay desa wisata, dan aksesibilitas udara sebagai top 3 program,” kata Ukus Kuswara seraya mengatakan, top 3 program ini sebagaimana harapan Menteri Pariwisata perlu disosialisasikan kepada seluruh elemen pariwisata diantaranya kalangan media yang hari ini dilaksanakan dalam kegiatan workshop dengan peserta para jurnalis great Bali.

Apa itu great? Great adalah sebuah pendekatan pembangunan daerah pariwisata. Pendekatan ini, sebagaimana, sering dijelaskan oleh Menpar Arief Yahya, mengintegrasikan komponen; infrastruktur, aksesibilitas, konektivitas, aktifitas, fasilitas, perhotelan, dan preferensi pasar (pintu masuk/pintu distribusi, pola pergerakan wisata, kesiapan dan kepastian bisnis dan manajemen pariwisata) untuk mengoptimalkan nilai ekonomi dan dampak positif bagi masyarakat, bisnis, dan daerah. Jika Great Bali diterapkan tak hanya Bali yang akan jadi fokus tujuan wisata, namun wilayah sekitarnya seperti; Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menjadi bagian itinerary kunjungan wisman yang berkunjung ke Bali sebagai pintu masuk utama wisatawan. (Stevani Elisabeth)