Perguruan Tinggi Butuh Pembaruan agar Indonesia Tak Dilewati Negara Tetangga

Perguruan Tinggi Butuh Pembaruan agar Indonesia Tak Dilewati Negara Tetangga

Ilustrasi

SHNet, Jakarta – Indonesia saat ini terperangkap dalam situasi yang membutuhkan daya dobrak yang tinggi. Satu per satu negara tetangga kita melewati kita, China sudah melewati kita jauh di depan, sekarang Vietnam juga dalam proses melewati kita, dan kalau kita tidak bangun-bangun, Kamboja pun akan melewati kita.

“Saat ini yang dibutuhkan Indonesia  bisa digambarkan dengan bahasa sederhana: keluar dari perangkap kesedangan (the track of intermediacy). Kita sudah bergumul di situ puluhan tahun tapi tidak bisa tembus,” kata Prof. Djisman Simandjuntak, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional dengan tema “Pembaruan Pendidikan Tinggi Indonesia” di Jakarta, Kamis (30/3), di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Jakarta Selatan.

“Negara-negara itu tumbuh 7% per tahun, sementara kita tumbuh 4% per tahun. Tinggal hitung berapa tahun diperlukan sampai kita dilewati. Jadi tantangan Indonesia adalah keluar dari ‘perangkap kesedangan’,” kata Prof Djisman.

Dengan dunia seperti ini tidak ada pilihan bagi universitas untuk bekerjasama dengan dunia usaha. Di Indonesia sudah waktunya untuk merintis usaha menjadi bagian penting dari Dharma perguruan tinggi.

“Kita bisa menyebutnya Dharma keeempat dari Tridharma Perguruan Tinggi, tapi bisa juga kita sisipkan dalam Dharma pengabdian masyarakat,” kata Prof Djisman lagi.

Saat ini, perguruan tinggi memang ditantang untuk mengikuti perkembangan. Dari model pengembangan ekonomi suatu negara, perguruan tinggi harus juga menjadi agen inovasi yang bisa mengendalikan ekonomi suatu negara. Pendidikan abad 21 juga harus menumbuhkan berjiwa kewirausahaan agar tidak tertinggal dari negara tetangga dan membawa Indonesia bersaing di kancah internasional.

“Waktu kita membuat Rencana Strategis tahun 2014, saat itu belum berlaku Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), maka menghadapi itu kita harapkan perguruan tinggi juga menjadi berdaya saing dengan negara-negara lain di Asia,” kata Dirjen Kelembagaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) Dr Ir Patdono Suwignjo di Seminar ini.

“Jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia terlalu banyak dan komposisinya menyedihkan. Semua negara maju, ekonominya maju, jumlah mahasiswanya yang vokasi seimbang dengan yang akademik. Austria paling ekstrim, jumlah mahasiswa vokasinya 78%, yang 22% akademik. Di Indonesia, jumlah mahasiswa akademiknya 88%, dan sisanya (12% saja) vokasi,” kata Patdono.

“Dari 12% itu yang STEM (program Science, Technology, Engineering and Matematic) hanya 6%. Maka, industri Indonesia bila berharap banyak dari lulusan yang tidak kompeten ini, bisa terancam mengalami kemunduran,” katanya lagi.