Kolam Renang Sungai ala Desa Sawai

Kolam Renang Sungai ala Desa Sawai

Sungai Air Asinahu di desa Sawai, Pulau Seram, Maluku. (Ist)

SHNet, MALUKU – Namanya memang tak sehingar bingar Pulau Ora yang sudah mapan menjadi destinasi wisata khususnya untuk wisata bulan madu. Padahal, desa Sawai di Pulau Seram, Maluku, menawarkan keindahan yang unik, yang mungkin satu-satunya di dunia.

Keunikan itu adalah sungai Air Asinahu yang mengaliri desa ini. Tidak seperti sungai-sungai lain yang tampak keruh, Air Asinahu sangat jernih meski sering dipakai untuk mandi, mencuci, bahkan berenang oleh penduduk setempat.

(Ist)
(Ist)

Saking jernihnya, ikan-ikan kecil, batu karang, dan koralnya yang masih terjaga keindahannya terlihat jelas. Bahkan, permukaan sungainya pun bisa dilihat tanpa mesti menyelam ke dasarnya.

Air sungai ini bersumber dari bebatuan yang ada di bawah tebing dan berbatasan dengan hutan. Dari penampilannya, sungai ini pun lebih cocok untuk disebut dengan kolam renang. Mengapa?

Karena dipasangi ubin keramik di pinggiran sungainya. Persis seperti kolam renang. Maka tak heran sungai ini sering juga disebut sungai keramik.

Sungai ini dinamakan Air Asinahu karena berarti air tawar yang rasanya asin seperti air laut. Menurut warga setempat, dulunya sungai ini merupakan sungai air tawar. Namun, ketika terjadi pasang, air laut pun masuk ke sungai dan membanjirinya.

Terletak di Teluk Sawai, tepatnya di wilayah pesisir utara Pulau Seram, Maluku, Desa Sawai memiliki luas sekitar 15 hektare. Lokasinya berdekatan dengan Taman Nasional Manusela.

Desa SAwai. (Ist)
Desa SAwai. (Ist)

Hutan Desa Sawai pun termasuk taman nasional yang menjadi rumah bagi burung Kakatua Seram, Nuri kepala hitam, burung Bayan, burung Rangkong, hingga burung Perkicik.

Masyarakat setempat menyebutkan, Desa Sawai pertama kali dibangun oleh pedagang Arab yang datang ke Pulau Seram jauh sebelum bangsa Spanyol, Portugis, dan bangsa Belanda yang akhirnya memonopoli rempah-rempah.

Tak heran jika terlihat ada pengaruh budaya Arab di sini seperti misalnya, musik gambus dan baju gamis. Tidak jarang pula terlihat warga desa yang berparas mirip seperti orang Arab yang khas dengan hidungnya yang mancung.

Sebagian besar warga Desa Sawai bermata pencaharian sebagai nelayan, ada juga yang berkebun dengan hasil palawija dan buah-buahan. (Berbagai Sumber/DM)