Desa Penglipuran (4): Satu-satunya Desa di Bali Tanpa Upacara Pembakaran Mayat

Desa Penglipuran (4): Satu-satunya Desa di Bali Tanpa Upacara Pembakaran Mayat

Upacara pembakaran mayat (Ngaben) di Bali. (Ist)

Nama desa Penglipuran, Bali sudah mendunia. Tapi apakah kita tahu banyak tentang desa tersebut? Redaksi SHNet akan menyajikannya dalam 5 seri tulisan. Ikuti terus ya!

Menganut teguh falsafah “Tri Hita Karana”, desa Penglipuran sangat mengharmonisasikan seluruh aspek kehidupan mereka baik dengan Sang Pencipta, dengan sesama, dan dengan alam lingkungannya.

Baca juga: Desa Penglipuran (1): Mengenal Desa Wisata Terbaik di Bali

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, rumah-rumah penduduk yang sama dari ujung ke ujung adalah salah satu penerapan falsafah tersebut. Kesederhanaan juga menjadi ciri desa ini, lihat saja bagaimana tembok rumahnya pun menggunakan cat berbahan dasar tanah liat.

Dinding-dinding kamarnya pun menggunakan bambu meski ada juga yang sudah menggunakan batu bata. Tak hanya itu, tata letak rumah penduduk, tempat ibadat, hingga lembaga perangkat desa pun diatur sedemikian rupa.

Baca juga: Desa Penglipuran (2): Tradisional, Orisinal, dan Harmonis

Di bagian utara yang posisinya paling tinggi daripada lainnya adalah tempat pura desa yang bernama Pura Penataran. Rumah-rumah penduduk terletak di tengah dan zona yang terakhir adalah setra atau kuburan.

Salah satu sudut pemandangan desa Penglipuran, Bali. (Ist)
Salah satu sudut pemandangan desa Penglipuran, Bali. (Ist)

Berbeda dengan orang Bali lainnya yang memperlakukan mayat dengan melakukan upacara pembakaran, penduduk Penglipuran tidak. Meski menganut agama Hindu, mayat tidak dibakar melainkan langsung dikubur.

Baca juga: Desa Penglipuran (3): Bebas Sampah dan Asap Rokok

Dari lahan sekitar 112 hektar, 40 persennya adalah hutan bambu. Hutan ini sangat dijaga oleh penduduk Penglipuran sampai-sampai jika ingin memotongnya, harus mendapat izin dari tokoh masyarakat setempat.

Baca juga: Desa Penglipuran (5): Sesajen 5 Ekor Ayam dan Galungan

Wanita sangat dihormati di desa ini sehingga ada aturan khusus yang melarang pria melakukan poligami. Apabila ketahuan, maka pria tersebut akan dikucilkan. Jadi, para wanita yang berlibur sendirian jangan takut “dikerjai” pria-pria nakal di Bali yang beberapa waktu ini telah memberi pencitraan buruk bagi pariwisata Bali. (Berbagai Sumber/DM)

Bersambung…