Desa Penglipuran (3): Bebas Sampah dan Asap Rokok

Desa Penglipuran (3): Bebas Sampah dan Asap Rokok

Desa Penglipuran, Bali. (Ist)

Nama desa Penglipuran, Bali sudah mendunia. Tapi apakah kita tahu banyak tentang desa tersebut? Redaksi SHNet akan menyajikannya dalam 5 seri tulisan. Ikuti terus ya!

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, desa Penglipuran telah menjadi desa wisata percontohan pada tahun 1995. Ini berawal dari sekelompok mahasiswa Universitas Udayana yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 1990.

Mereka meninggalkan jejak berupa taman-taman kecil dan penataan lingkungan. Pada sekitar tahun 1991-1992, desa ini sudah dikunjungi wisatawan. Padahal, Dinas Pariwisata Daerah belum punya kebijakan untuk mengelola desa ini.

Baca juga: Desa Penglipuran (1): Mengenal Desa Wisata Terbaik di Bali

Beberapa pemuda dan sesepuh desa bersama perwakilan daerah dan kota akhirnya bermusyawarah untuk mengembangkan potensi pariwisata tempat ini. Hasilnya, tahun 1993, desa adat Penglipuran ditetapkan menjadi desa wisata berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati No. 115 tanggal 29 April 1993.

Di masa awal-awal resmi sebagai desa wisata, tahun 1995, desa Penglipuran meraih penghargaan Kalpataru, penghargaan bagi daerah, kota, maupun desa yang menjaga lingkungan hidup. Mereka dianggap mampu mempertahankan dan memelihara 75 hektar hutan bambu dan 10 hektar kawasan vegetasi lainnya.

Hamparan hutan bambu di desa Penglipuran, Bali. (Ist)
Hamparan hutan bambu di desa Penglipuran, Bali. (Ist)

Alhasil, ketika kita berkunjung ke sana, suasana makin terasa sejuk dan segar karena tidak ada satu sampah pun berserakan. Jangan takut jika ingin membuang sampah karena telah disediakan tempatnya di berbagai sudut.

Baca juga: Desa Penglipuran (2): Tradisional, Orisinal, dan Harmonis

Dari informasi yang dihimpun SHNet, ibu-ibu PKK desa Penglipuran mengelola sampah-sampah di desanya dengan sangat baik. Setiap bulannya, para ibu berkumpul untuk memilah sampah organik dan nonorganik.

Baca juga: Desa Penglipuran (5): Sesajen 5 Ekor Ayam dan Galungan

Sampah organik diolah menjadi pupuk sementara sampah nonorganik dijual dan ditabung ke bank sampah desa. Satu kilogram sampah dihargai Rp 200, lho!

Tak heran jika desa ini meraih Kalpataru. Bahkan, Penglipuran pun pernah dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia bersama Desa Terapung Giethjoorn di provinsi Overrijssel, Belanda dan Desa Mawlynnong, India.

Baca juga: Desa Penglipuran (4): Satu-satunya Desa di Bali Tanpa Upacara Pembakaran Mayat

Oh ya, jangan juga coba-coba berani merokok di desa ini karena dilarang keras! (Berbagai Sumber/DM)

Bersambung…