Desa Penglipuran (2): Tradisional, Orisinal, dan Harmonis

Desa Penglipuran (2): Tradisional, Orisinal, dan Harmonis

Desa Penglipuran, Bali. (Ist)

Nama desa Penglipuran, Bali sudah mendunia. Tapi apakah kita tahu banyak tentang desa tersebut? Redaksi SHNet akan menyajikannya dalam 5 seri tulisan. Ikuti terus ya!

Desa Penglipuran terdiri dari 2 kata yaitu Pengling dan Pura, artinya adalah tempat suci untuk mengenang para leluhur. Penduduk desa ini berasal dari desa Bayung Gede, Kintamani yang bermigrasi permanen ke desa Kubu Bayung yang akhirnya berubah nama menjadi desa Penglipuran.

Baca juga: Desa Penglipuran (5): Sesajen 5 Ekor Ayam dan Galungan

Sesuai dengan namanya, desa ini sangat menjunjung tinggi amanat para leluhurnya. Kita dapat melihatnya dari penataan bangunan di desa ini yang tampak seragam dari ujung ke ujung, dari satu rumah ke rumah lainnya. Harmonis!

Salah seorang penduduk desa Penglipuran duduk-duduk di depan pintu rumahnya yang beratapkan sirap bambu. (Ist)
Salah seorang penduduk desa Penglipuran duduk-duduk di depan pintu rumahnya yang beratapkan sirap bambu. (Ist)

Arsitektur rumah pun masih tradisional. Tiangnya terbuat kayu dengan atap yang khas yaitu berupa sirap bambu. Setiap rumah dipisahkan dengan tembok dan memiliki gerbang khas Bali sebagai pintu masuk.

Baca juga: Desa Penglipuran (1): Mengenal Desa Wisata Terbaik di Bali

Pintu gerbang di setiap rumah tampak saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jalan utama yang mengarah pada bagian utama desa yang lokasinya berada di tempat tertinggi. Pintu gerbang ini dinamakan angkul-angkul yang juga memiliki pahatan yang sama.

Baca juga: Desa Penglipuran (4): Satu-satunya Desa di Bali Tanpa Upacara Pembakaran Mayat

Siapapun yang masuk ke kawasan ini, dilarang menggunakan kendaraan bermotor, mobil maupun sepeda motor. Kendaraan-kendaraan tersebut dapat diparkirkan di lokasi parkir yang telah disediakan yang lahannya cukup luas.

Baca juga: Desa Penglipuran (3): Bebas Sampah dan Asap Rokok

Larangan tersebut muncul demi menjaga orisinalitas desa ini. Bahkan, kerap kali bantuan pengaspalan dari Dinas Pekerjaan Umum atau bantuan seng untuk atap langsung ditolak karena dianggap tidak sesuai dengan konsep kehidupan mereka. (Berbagai Sumber/DM)

Bersambung…