Dayak Madagascar Pulang Kampung ke Kalimantan

Dayak Madagascar Pulang Kampung ke Kalimantan

Ilustrasi / ist

SHNet, PONTIANAK  – Perwakilan Suku Merina, Sihanaka, dan Betsileo, dikenal dengan kelompok suku Malagasi yang berasal dari garis keturunan Suku Dayak di Madagascar, Afrika, dijadwalkan menghadiri Pekan Gawai Dayak di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, 20 – 27 Mei 2017.

Madagascar sebuah negara pulau di Samudra Hindia, lepas pesisir timur Afrika. Pulau Madagaskar adalah pulau terbesar keempat di dunia. Etnis Malagasi yang kini menempati Madagaskar, berasal dari rahim 30 perempuan yang terdampar di daerah itu pada 1.200 tahun lalu.

Di antara 30 perempuan itu, 28 perempuan di antaranya berasal dari Suku Manyaan, Barito, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, sebagaimana pernah dilansir Murray Cox, peneliti genetika dari Massey University, Selandia Baru.

“Sudah ada kepastian garis keturunan Suku Dayak di Magadascar akan datang. Mereka rindu kampung halaman di Kalimantan. Setelah 31 tahun Gawai Dayak di Pontianak digelar tiap tahun, gaungnya akhirnya sampai ke telinga keturunan Suku Dayak di Madagascar. Mereka pulang kampung,” kata Kartius, Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak XXXII Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2017, Selasa (28/3/2017).

Menurut Kartius, Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat, rencana kedatangan garis keturunan Suku Dayak di Magadascar, dalam rangka mengisi acara berupa mempersembahkan tarian pada malam hiburan yang mirip dengan lekuk tarian sejumlah subsuku Dayak, baik di Republik Indonesia, Federasi Malaysia dan Kerajaan Brunei Darussalam.

Dikatakan Kartius, selain dari Madagascar, Pekan Gawai Dayak di Pontianak, akan dihadiri seniman seni pahat dari Suku Naga di India. Suku Naga, dalam berbagai literatur etnologi memiliki pertalian darah dengan Suku Dayak di Kalimantan.

“Suku Aborigin dari Australia, dijadwalkan pula datang menghadiri Pekan Gawai Dayak Provinsi Kalimantan Barat XXXII Tahun 2017. Kedatangan tamu dari tiga negara diharapkan akan membuat Gawai Dayak Tingkat Provinsi Kalimantan Barat lebih semarak,” kata Kartius.

Disebutkan satu milenium lampau sekelompok etnis asli Kalimantan berlayar menggunakan perahu di Samudra Hindia. Kencangnya ombak di perairan luas ini mendorong perahu hingga terdampar di Madagaskar yang tak berpenghuni.

Kelompok yang terdampar tersebut kemudian membuka lahan di dataran tinggi untuk dijadikan permukiman dan sawah. “Kami berbicara mengenai satu budaya yang berpindah tempat melintasi Samudera Hindia,” kata Murray Cox peneliti genetika dari Massey University, Selandia Baru, kepada Live Science sebagaimana dikutip Tempo.co, Senin, 26 Maret 2012.

Bukti etnis Dayak sebagai pemukim pertama Madagaskar kini masih terawetkan pada tiga suku yang berdiam di dataran tinggi, yaitu Merina, Sihanaka, dan Betsileo. Ketiganya masih berkomunikasi menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Barito yang banyak dipakai di Kalimantan bagian selatan.

Pertanyaan yang masih tersisa di benak peneliti ini adalah seperti apa kontribusi genetik pemukim pertama ini terhadap penduduk Madagaskar saat ini. Untuk mengetahuinya, dia mempelajari gen yang didapat dari mitokondria 300 penduduk Madagaskar dan 3.000 penduduk Indonesia.

Pemilihan mitokondria disebabkan dapur energi pada sel ini menyimpan gen yang diturunkan oleh ibu. Sampel gen memperlihatkan kemiripan antara genom orang Indonesia dan Madagaskar.

Pekerjaan berikutnya adalah mengetahui kapan dan bagaimana etnis dari Indonesia sampai di pulau tersebut. Simulasi komputer digunakan untuk menelusuri silsilah genetik manusia Madagaskar yang hidup saat ini hingga ke masa lalu.

Hasilnya memperlihatkan bahwa penduduk Madagaskar saat ini terhubung dengan 30 perempuan. Perempuan-perempuan ini diperkirakan menjadi pemukim pertama sekitar 1.200 tahun lalu, yaitu 28 perempuan Indonesia dan dua lainnya dari Afrika.

Dari penelitian lain diketahui kromosom Y yang diturunkan dari ayah menunjuk pemukim laki-laki pertama Madagaskar juga berasal dari Indonesia. Namun tak diketahui berapa banyak jumlah mereka.

Berdasarkan fakta bahwa pria dan wanita penduduk Madagaskar berasal dari Indonesia, Cox menduga jumlah laki-laki pertama di pulau ini relatif sedikit.

Dari hasil penelitian ini, Murray Cox yakin populasi etnis Dayak yang terdampar segera berkembang pesat dan menguasai pulau. Diperkirakan kelompok besar sudah tercipta dalam beberapa generasi saja.

Pertanyaan yang belum terjawab adalah kenapa pemukim pertama ini bisa sampai di Madagaskar. Ada kemungkinan mereka sampai di Madagaskar tanpa disengaja.

Skenario yang mungkin terjadi adalah kelompok etnis Dayak berlayar dengan kapal yang sanggup menampung 500 orang. Di tengah samudra, kapal yang mereka tumpangi terbalik dan terdorong arus laut ke arah barat.

“Beberapa orang menyelamatkan diri menggunakan perahu cadangan,” kata Murray Cox.

Penumpang yang selamat inilah yang kemudian mendarat di Madagaskar dan mendirikan permukiman pertama di pulau tersebut.

Tentang pertalian Suku Naga di India dengan Suku Dayak di Kalimantan, diungkapkan James Ricardson Logan , ilmuwan Inggris yang lahir tanggal 10 April 1819 dan meninggal dunia tanggal 20 Oktober 1869.

Dalam kapasitasnya sebagai pakar entologi, James Ricardson Logan, menyatakan, Bangsa Indonesia berasal dari Assam (ujung Timur India), didasarkan adanya persamaan kebiasaan dari bebarapa suku di Sumatera dan Kalimantan dengan Suku Naga di Assam, timur laut India dan barat laut Birma.

Adat dan kebiasaan memotong kepala dan mencacah kulit pada orang Naga sama dengan adat dan kebiasaan orang Dayak di Kalimantan.

Suku Naga memiliki budaya dan tradisi yang sama, dan bentuk kelompok etnis terbanyak di negara bagian India Nagaland, yang memiliki jumlah yang signifikan di Manipur, Arunchal Pradesh dan beberapa populasi kecil di Assam.

Orang Naga berbicara dengan berbagai bahasa Tibet, Birma yang berbeda, yakni Lotha, Angami, Pochuri, Ao, Mao (Emela), Inpui, Rongmei (Ruangmei), Tangkhul, Thangal, Maram, dan Zeme. Selain itu, mereka mengembangkan Kreol Naga, yang mereka gunakan antara suku dan desa, yang masing-masing memiliki dialek bahasa mereka sendiri.

Pada 2012, negara bagian Nagaland secara resmi mengakui 17 suku Naga. Selain itu, beberapa suku Naga lainnya mendiami wilayah di negara bagian Manipur, Assam, dan Arunachal Pradesh, India; dan di perbatasan Burma. Suku Naga yang terkenal diantaranya Angami, Ao, Chakhesang, Chang, Khiamjungan, Koyak, Liangmai, Lotha, Pochury, R Ongmei, Zemen.

Suku-suku Naga mempraktikan pemburuan kepala dan menggunakan kepala musuh-musuhnya sebagai trofi pada abad ke-19 dan akhir 1969. Secara umum, pakaian tradisional Naga, serta gaya hidup mereka, sangat mirip dengan orang Wa di bagian Tenggara dan sejumlah kesamaan antara masyarakat dan tradisi dari Naga dan Wa yang dilihat oleh para antropolog seperti J.P. Mills dan J.H. Hutton.

Nagaland adalah sebuah negara bagian bukit yang terletak di bagian paling timur laut India, yang berbatasan dengan Birma di bagian timur; Assam di bagian barat; Arunachal Pradesh dan sebagian Assam di bagian utara.

Kemudian, Manipur di bagian selatan. Selain negara bagian Nagaland, suku-suku Naga datang ditemukan di Assam, Manipur dan Arunchal Pradesh dan perbukitan yang berada di barat laut Burma, seperti  zona yang mengadministrasikan diri Naga (awalnya Divisi Sagaing).

Kata Naga adalah sebuah eksonim Sekarang, kata tersebut melingkupi sejumlah suku yang tinggal di negara bagian India Nagaland, Manipur, Assam dan Arunachal Pradesh, dan juga di Myanmar. (Aju)