Terlalu Berlebihan

Terlalu Berlebihan

ilustrasi / ist

SHNet – Kejadian beberapa hari ini, mengingatkan satu momen pada tahun 2004, ketika Taufik Kiemas—Suami Presiden Megawati ketika itu mengeluarkan lontaran spontan, “Jenderal Seperti Anak Kecil”. Ujaran ini menjadi pemicu bagi Menkopolhukam Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu untuk mengundurkan diri dan maju untuk bertarung dalam pemilihan presiden 2004.

Bisa jadi, komentar spontan Almarhum Taufik Kiemas itu menyikapi adanya perilaku yang terlalu berlebihan dan tidak pada tempatnya.  Bisa juga komentar itu berlebihan atau sebaliknya memang seperti apa adanya yang dirasakan Taufik Kiemas ketika itu.
“Seperti Anak Kecil” ini juga pernah muncul di media ketika menyikapi adanya upaya kudeta yang dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2013 silam.

Beberapa hari belakangan ini, jagat media heboh untuk mengomentari, mencerna dan memviral cuitan Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono ketika ratusan mahasiswa mendatangi kediamannya di Kuningan, Jakarta Selatan. Dari cuitan itu sangat jelas, SBY mempertanyakan kepada Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian tentang keselamatannya.

Tentu tidak ada yang dapat memastikan apa yang dipikirkan dan dirasakan SBY dan keluarga, kecuali melalui cuitan di media sosial. Namun, kalau menyimak komentar yang berkembang di media sosial, bukan nada positif yang muncul tetapi ada ujaran sinis, ledekan dan sejenisnya. Bahkan, kalimat “saya bertanya kepada presiden dan kapolri” jadi viral untuk mempertanyakan apa saja yang memancing rasa humor. Cuitan yang memposisikan diri sebagai korban dan pihak yang disakiti menimbulkan rasa kurang simpati dari netizen.

Komentar netizen yang bernada mem-bully tentu sangat disayangkan, karena hal itu berkaitan dengan tokoh nasional dan presiden dua periode. Namun, dengan informasi yang begitu deras, tentu publik tidak bisa “dipermainkan”, karena akan muncul pertanyaan, apakah benar keselamatan SBY dan keluarga terancam? Padahal di satu sisi, semua tahu, ada pengawalan khusus bagi mantan presiden dan wakil presiden.

Selain itu, mahasiswa yang ke kediaman juga tidak melakukan perbuatan anarki ataupun kekerasan. Bisa jadi, ada kesalahan karena mendemo kediaman pribadi, tetapi situasi seperti itu bisa ditangani dengan cara yang lebih baik tanpa harus menimbulkan kehebohan. Kita juga bisa menyaksikan ketika kompleks perumahan Ahok didemo beberapa waktu lalu, meski itu rumah pribadi, tapi tidak ada juga yang komentar. Tidak ada yang protes. Penghuni perumahan juga tidak bertanya kepada presiden dan Kapolri.

Kita tentu berharap, siapapun pemimpin yang didatangi rakyat untuk tidak merasa selalu terancam. Kalau saja, SBY atau keluarga mengajak mahasiswa untuk masuk dan mendengarkan aspirasi, tentu merupakan suatu sikap yang sangat bijaksana. Tentu, bukan cemohan netizen yang diperoleh, tetapi justru apresiasi karena melihat anak muda yang datang itu bukan ancaman, meskipun kedatangan mereka tidak memberitahu dan tidak diundang.

Terlepas dari motif apapun yang ada, tetapi jangan dilupakan, semua itu anak-anak muda yang juga generasi untuk masa depan negara ini. Tentu, sangat menarik, jika SBY mengajak anak-anak muda itu untuk berdiskusi dan berbicara tentang negara ini daripada melihat anak muda itu sebagai ancaman akan keselamatan keluarga.

Dalam situasi apapun, seorang pemimpin tidak boleh membebani rakyat dengan keluhan, kecemasan dan ketakutan, karena rakyat sudah begitu capek untuk menghadapi berbagai persoalan keseharian. Untuk itu, setiap pemimpin dan negarawan, tidak boleh membebani rakyat dengan persoalan, tetapi harus menjadi bagian dari penyelesaian masalah. Tidak dibayangkan, ketika pemimpin hanya menghabiskan waktu untuk berkeluh kesah, kemudian kepada siapa rakyat harus curhat soal persoalannya.

Setiap pemimpin harus membantu masyarakat untuk memiliki rasa hormat terhadap pemimpin. Rasa hormat itu tidak bisa diharapkan datang begitu saja dari masyarakat, jika pemimpin tidak mampu mengambil posisi dan porsi yang tepat dalam menyikapi setiap persoalan.

Ketika pemimpin tidak mendapat hormat dan justru di-bully, tentu itu sangat tidak diharapkan, karena pemimpin bisa saja membuat kesalahan, tetapi ada banyak hal yang patut diapresiasi. Sangat tidak baik, jika generasi muda hanya diwarisi sikap untuk mengelu-elukan ketika seorang pemimpin memiliki jabatan, tetapi mengabaikan begitu saja ketika sudah tidak menjabat.

Gaya politik meraih simpati publik dengan memposisikan diri sebagai korban mungkin efektif di masa lalu, tetapi bisa sangat kontraproduktif dalam era keterbukaan informasi sekarang. Pemilihan Presiden 2014 dan pemilihan kepala daerah Jakarta pada 2012, ternyata pemimpin apa adanya mampu meraih simpati dan dukungan yang besar.

Kita tentu berharap, generasi kini memberikan respek yang sepatutnya kepada generasi terhadahulu yang juga menghabiskan waktu dan tenaga untuk berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara ini. Sebab, perlakuan terhadap mantan pemimpin akan menjadi contoh bagaimana generasi mendatang memperlakukan pemimpin pada saat ini.

Gejala beberapa hari belakangan ini, dimana SBY mendapat komentar yang bisa jadi berlebihan karena cuitan. Ini sangat disayangkan, tetapi ini juga menjadi pelajaran untuk lebih bijak dan melontarkan cuitan, karena tanggapan dari setiap cuitan bisa saja beraneka ragam, dari pujian, apresiasi, sumpah serapah dan sebagainya. Terkadang komenetar di medsos bisa jadi sangat kejam dan tanpa hormat.***