Ini Tiga Prioritas Pekerjaan Kemenpar 2017

Ini Tiga Prioritas Pekerjaan Kemenpar 2017

Homestay Desa Wisata merupakan salah satu dari tiga prioritas pekerjaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) 2017. (Ist)

SHNet, Jakarta- Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) I Gde Pitana mengatakan, ada tiga besar prioritas pekerjaan Kemenpar yakni Go Digital, Homestay Desa Wisata dan Air Connectivity.

“Go Digital di semua lini, dari membangun digital market place dengan mengendors ITX –Indonesia Tourism Xchange, membuat dashboard M-17, Data Werehouse, sampai ke promosi pun dilakukan melalui digital media, seperti Google, Baidu, TripAdvisor, Ctrip, dan lainnya,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (16/2).

Homestay Desa Wisata, lanjut Pitana, Kemenpar berkolaborasi dengan KemenPU-PR, Kemendesa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kemen LHK, Kementerian BUMN. Homestay itu adalah antisipasi atas kekurangan amenitas di destinasi wisata yang sedang dikembangkan, seperti 10 Top Destinasi atau 10 Bali Baru.

Dari Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu-Kota Tua Jakarta, Borobudur Joglosemar, Bromo Tengger Semeru Jawa Timur, Mandalika Lombok NTB, Labuan Bajo Komodo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maluku Utara. Sampai dengan tahun 2019 nanti, ditargetkan 100 ribu homestay yang akan dipercepat di 10 Bali Baru itu.

“Dengan target 20 juta wisman pada tahun 2019, maka kapasitas hotel dan akomodasi tidak akan cukup. Maka solusinya, harus melibatkan masyarakat untuk membangun amenitas, sekaligus membuat kue industri pariwisata bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Istilah Pak Menpar Arief Yahya adalah sharing economy, atau ekonomi gotong royong,” jelas dia.

Sama dengan poin ketiga, Air Connectivity, yang menjadi program prioritas 2017 itu adalah untuk membuka lebar-lebar akses menuju ke Indonesia. Saat ini 75% wisatawan ke Indonesia itu melalui pelabuhan udara. Sisanya, melalui penyeberangan laut dan crossborder.

“Kami menghitung, tahun 2017 saja seats capacity penerbangan internasional yang ke Indonesia kurang 4 juta? Karena itu, langkah yang dilakukan adalah dengan 3A, melobi Airlines, mengoptimalkan Airport, dan mendorong percepatan ke Authority (baca: Kemenhub red),” kata dia. (Stevani Elisabeth)