Sejalan Dengan Reformasi Hukum, Kawan8 Tuntut Buka Kembali Kasus JIS

Sejalan Dengan Reformasi Hukum, Kawan8 Tuntut Buka Kembali Kasus JIS

ilustrasi / eptikasus.files.wordpress.com

SHNet, JAKARTA – Untuk memperjuangkan keadilan bagi tujuh terpidana dalam kasus JIS, Kawan8 bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (Himakum) Universitas Nasional Jakarta, menyelenggarakan diskusi publik yang bertajuk “Bedah Rekayasa Kasus JIS: Mereka Yang Mendambakan Keadilan”, Selasa (29/11) di kampus Universitas Nasional, Jakarta Selatan.

Kejanggalan tuduhan dan dugaan motif finansial yang terjadi pada kasus yang terjadi di Jakarta Intercultural School (JIS) tahun 2014 ini merupakan bukti nyata perlunya reformasi terhadap sistem hukum Indonesia. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia yang mendorong adanya reformasi hukum untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap keadilan dan kepastian hukum di Indonesia.

Juru bicara Kawan8, Nabila Awalia, mengatakan, kasus tuduhan kekerasan seksual di JIS pada 2014 lalu secara kasat mata merupakan kasus yang diadili oleh opini publik melalui media massa (trial by the press). Dimana opini publik yang sudah terlanjur dibentuk, secara nyata menjadi pertimbangan para penegak hukum dalam mengambil keputusan.

“Dalam diskusi publik ini, Kawan8 bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (Himakum) Universitas Nasional Jakarta ingin mengingatkan kembali kepada masyarakat mengenai pentingnya proses hukum yang dilakukan secara obyektif, sehingga kebenaran dapat terungkap dan keadilan dapat ditegakkan. Kami berharap kriminalisasi yang terjadi dalam kasus JIS ini tidak terulang lagi pada kasus-kasus lainnya, sehingga orang yang tidak bersalah dan keluarganya tidak perlu menjadi korban seperti pada kasus ini,” ujar Nabila.

Untuk mengingatkan kembali mengenai kasus ini, pada awal 2014 lalu, publik dikejutkan oleh pemberitaan mengenai tuduhan kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta Intercultural School (JIS). Seluruh masyarakat mengecam peristiwa yang menghebohkan di media massa tersebut. Delapan orang, yang terdiri dari enam petugas kebersihan (Agun Iskandar, Virgiawan, Syahrial, Zaenal, (Alm) Azwar serta Afrischa Setyani) dan dua orang pengajar (Neil Bantleman dan Ferdinand Tjiong) dituduh melakukan kekerasan seksual pada anak murid TK di JIS.

Awalnya, ibu dari anak yang mengaku korban (MAK) mengajukan tuntutan perdata senilai USD12,5 juta kepada JIS. Setelah menggandeng pengacara OC Kaligis (yang tertangkap KPK dan kemudian dihukum karena kasus suap), tuntutan tersebut naik menjadi USD125 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun. Angin segar datang dari Singapura dan Belgia. Hasil pemeriksaan anuscopi yang dilakukan oleh ibu dari AD, salah satu anak yang juga mengaku menjadi korban, di RS KK Women’s and Children’s Hospital di Singapura tidak menunjukkan adanya kekerasan seksual, seperti yang disangka oleh ibu si anak.

Sedangkan hasil pemeriksaan laboratorium di rumah sakit Belgia yang dilakukan oleh ibu dari MAK (yang melakukan tuntutan Rp 1,6 triliun), ternyata juga menunjukkan si anak tidak menderita penyakit herpes, yang menjadi sebab tuduhan awal dugaan terjadinya kekerasan seksual. Namun, lagi-lagi pengadilan kita abai atas temuan tersebut. Demi asas keterlanjuran dan mengamini opini publik yang terbentuk di awal kasus, Mahkamah Agung (MA) menyatakan delapan orang tersebut bersalah. Kelima orang petugas kebersihan divonis 7-8 tahun penjara, sedangkan dua orang guru 11 tahun penjara. Sekali lagi, keadilan dibunuh oleh pengadilan.

Dipertengahan 2016, kasus ini tiba-tiba kembali mencuat. Berawal dari cuitan di twitter, adalah akun @kurawa yang melakukan investigasi kembali atas kasus ini dan menyimpulkan kasus ini merupakan rekayasa yang didasari oleh tuduhan palsu dan investigasi yang dilakukan dengan niat jahat. Kasus kekerasan seksual tersebut ditengarai tidak pernah ada karena tidak pernah didasari oleh satu bukti sahih pun yang menyatakan si anak telah mengalami kekerasan seksual. Serial twit @kurawa menjadi viral di media sosial dan menarik perhatian jutaan netizen. Banyak masyarakat yang baru terbuka mengenai kisah dan fakta sebenarnya di balik kasus ini.

Pengungkapan fakta di balik kasus di media sosial ini juga telah membuat beberapa media kembali melakukan program investigasi demi menyajikan fakta yang belum pernah terungkap dari kasus ini sejak 2 tahun yang lalu, termasuk penyiksaan yang dialami oleh para petugas kebersihan, bukti-bukti yang dipaksakan, serta kejanggalan lainnya.

Hingga saat ini, dari tujuh terpidana, baru dua orang yang telah keluar salinan putusan Mahkamah Agung, yakni Neil dan Ferdi. Selebihnya, lima orang lainnya Agun Iskandar, Virgiawan, Syahrial, Zaenal dan serta Afrischa Setyani, masih menunggu surat salinan putusan kasasi mereka. Akibat dari putusan kasasi yang belum keluar, para petugas kebersihan ini tidak dapat memperjuangkan keadilan dan kebebasan mereka melalui tahap Peninjauan Kembali.

“Kami melihat begitu banyak kejanggalan dari kasus ini, termasuk bukti-bukti yang sumir dan tuntutan finansial fantastis yang menjadi pertanyaan terhadap motif sebenarnya dibalik kasus ini. Ketujuh orang yang dituduh atas kejahatan yang tidak mereka lakukan dan satu orang almarhum yang wafat pada saat proses penyelidikan polisi ini adalah korban kriminalisasi yang harus diperjuangkan nasibnya. Kami berharap para hakim di Mahkamah Agung (MA) dapat meninjau kembali kasus ini secara teliti dan seksama – tidak terpengaruh oleh opini publik yang pernah terbangun dua tahun lalu, dan menggunakan nurani dalam mengambil keputusan yang seadil-adilnya,” ujar mahasiswi yang akrab disapa Abel ini.  (*)

Sumber:
Sulis – Kawan8
Email:volunteerkawan8@gmail.com