Nurlina, Perempuan yang Sejak Usia 12 Tahun Jadi Nelayan

(https://www.youtube.com/watch?v=Agj9jiqXmqc&spfreload=10  Film documenter ini merupakan satu dari tujuh film yang dipilih melalui kompetisi video anak muda dan penelusuran atau scouting yang diselenggarakan oleh Oxfam Indonesia)

SHNet, JAKARTA – Sejak masih bayi, ia sudah terbiasa ikut ayahnya melaut. Laut adalah tempatnya bermain dan menikmati hidup bersama sang ayah. Keberadaannya sebagai perempuan tidak membuat sang ayah meninggalkannya di rumah saat sedang berlayar.

Sang ayah sangat mencintai anaknya itu. Sayang, masa-masa indahnya bersama sang ayah tidak berlangsung lama. Ayahnya meninggal dunia, saat ia belum paham dan siap mengarungi ganasnya ombak di samudera. Ayahnya meninggal saat ia baru berusia 12 tahun.

Dunia pendidikan baru saja mulai dikecapnya sebentar. Belum paham apa maksudnya bersekolah. Belum mengenal dengan baik, bagaimana ia harus hidup untuk masa depannya. Ia hanya tahu cara menyalakan mesin ketinting karena melihat pekerjaan ayahnya, yakni menangkap ikan dilaut untuk kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membeli beras dan sebagainya.

“Ayah saya meninggal saat saya masih kecil. Saya melaut sejak saya kecil. Saat ayah saya meninggal, saya harus menggantikan perannya. Saya Nurlina, perempuan, nelayan!” Nurlina (27), perempuan nelayan asal Pulau Sebangko, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Pangkajene Kepulauan, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Begitu ia memperkenalkan diri di Ciawi, Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Semenjak ayahnya meninggal, Nurlina kecil mengambil alih segala perannya. Nurlina melanjutkan keseharian ayahnya. Setiap hari aktivitasnya menuju ke ketingting, menyalakan mesinnya dan melaut mencari ikan dan kepiting ranjungan. Ibu, seorang kakak dan sebuah ketinting dengan perlengkapan sebagai nelayan sederhana adalah harta berharga yang ditinggalkan sang ayah untuk Nurlina.

Nurlina pun tak punya pilihan lain. Tanpa pengandaian macam-macam. Hanya melaut! Hanya dengan cara itu, Nurlina bisa melanjutkan hidupnya saat itu. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk ibunya yang saat ini sudah berusia 70 tahun.

Baca juga:

Ia pun terpaksa meninggalkan ruang kelasnya di sekolah dan teman-temannya. Bertarung dengan ganasnya ombak, menantang tiupan angin dini hari dan baru kembali berteduh saat matahari terik. Nurlina kecil belajar perkiraan cuaca berdasarkan tanda-tanda alam, kecepatan angin, perkiraan gelombang dan sebagainya.

“Saya sudah menyalakan mesin sebelum pukul 04.00 pagi. Nanti saya pulang jam 11.00 siang,” katanya. Saat banyak orang terlelap tidur, Nurlina sudah harus bertarung lagi dengan pekerjaannya.

Kepiting

Pada awalnya, seperti kebiasaan ayahnya, ia menangkap apa saja di laut yang bisa dijual untuk menghasilkan uang. Namun dalam perjalanan waktu, Nurlina harus realistis. Ketinting kecilnya tak mampu bersaing dengan pengusaha ikan atau nelayan besar yang memiliki kapal ikan besar untuk menangkap ikan. Ia memilih fokus menangkap kepiting saja. Tentu saja tak mudah.

“Itu yang cocok dan realistis untuk kondisi ketinting saya,” ujarnya. Ia mencari kepiting di sekitar Pulau Sebangko.

Sekali melaut Nurlina hanya bisa menangkap sekitar sekilogram kepiting yang dijual dengan harga Rp 42.000/kg. Sangat tidak cukup untuk menghidupi tiga orang! Belum lagi harga bahan bakar yang masih sangat mahal dan langka. Karena itu, ia menjalani pekerjaan sampingan dengan menjadi pengikat rumput laut seusai melaut. Mengikat satu ikat rumput laut diupahi Rp 3.000.

“Saya sebagai nelayan perempuan banyak dicibir orang. Itu karena saya perempuan. Tapi, saya tidak takut. Kalau ada yang bilang perempuan tidak bisa jadi nelayan, tolong orang itu dibawa ke saya saja,” kata Nurlina.

Ia mengaku tak terlalu butuh pengakuan akan adanya perempuan yang berprofesi sebagai nelayan. Toh, dengan adanya pengakuan sekalipun, ia sanksi pemerintah akan membantunya layaknya nelayan laki-laki. Saat ini memang ia sudah mengantongi Kartu Tanda Nelayan yang didapatnya dengan susah payah. Dengan keberadaaan kartu tersebut, Nulina kini mendapat jaminan sosial dari pemerintah.

“Saya sudah biasa dibilang macam-macam sama orang. Saya tidak peduli. Saya hanya ingin kartu ini ada manfaatnya buat saya,” ujarnya.

Berbagai pengalaman pahit selama melaut sudah pernah dihadapi Nurlina, mulai dari kehabisan bahan bakar, ketinting karam di laut bahkan hampir ditelan badai saat cuaca buruk. Namun, ia tahu tidak ada profesi yang mudah dijalani.

Semasa kecil, ia sangat ingin menjadi seorang guru untuk memperbaiki nasib orang-orang di kampungnya. Namun, pemaksaan penggilan jadi nelayan tak bisa dielak dan tak bisa untuk tak dipilih.

Pahit getir jadi pelaut membuat Nurlina mengajak anak-anak di kampung halamannya untuk giat belajar di sekolah dan memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia sendiri tak malu untuk bersekolah lagi dengan memanfaatkan paket B (SMP).

“Sekolah itu sangat penting. Bupati Pangkep, tolonglah, jangan sampai ada anak yang tidak bisa sekolah,” katanya.

Pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2016 lalu, Oxfam Indonesia mengukuhkan Nurlina sebagai salah satu dari 9 Perempuan Pejuang Pangan.  Nurlina terjaring melalui program kompetisi video anak muda dan penelusuran atau scouting yang diselenggarakan Oxfam Indonesia.  Ia termasuk perempuan pejuang pangan di pesisir yang berperan penting dalam pengakuan adanya profesi nelayan perempuan oleh pemerintah. Film documenter untuknya dibuat oleh Saidah. (Inno Jemabut)