Kisah Jenderal Gatot Nurmantyo Peroleh Brevet Baret Merah Kopassus

Kisah Jenderal Gatot Nurmantyo Peroleh Brevet Baret Merah Kopassus

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo/Ist

SHNet, JAKARTA  – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, tampak mengenakan topi brevet baret merah saat mendampingi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) di Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat di Cijantung, Jakarta, Jumat (11/11). 

Kunjungan Presiden Jokowi di Markas Kopassus seakan memberikan peringatan kepada aksi demonstrasi kelompok Islam puluhan ribu orang anti Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, Jumat, 4 Nopember 2016. Jokowi menegaskan, “Dalam keadaan mendesak, saya selaku Panglima Tertinggi TNI, berwenang menggerakkan Kopassus!”

Tapi yang menarik di dalam kunjungan kerja, adalah Gatot menggunakan topi baret merah kebanggaan anggota Kopassus. Padahal Gatot, bukan berlatat belakang Kopassus, melainkan dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Ternyata Gatot satu-satunya jenderal bintang empat dalam sejarah militer Indonesia, memperoleh brevet baret merah, mulai dari bawah, dengan mengikuti semua prosedur, sebagaimana layaknya seorang anggota Kopassus biasaya.

Gatot lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960. Tapi sejatinya ayahnya berasal dari Solo dan ibunya dari Cilacap. Gatot dibesarkan dari keluarga yang berlatar militer pejuang sangat kental.

Ayah Gatot, bernama Suwantyo, seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi Tentara Pelajar. Di masa perang kemerdekaan ayahnya bertugas di bawah komando Jenderal Gatot Subroto. Dari nama tokoh militer kharismatik itulah, ayahnya kemudian memberi nama anaknya “Gatot”.

Ayah Gatot pensiun dengan pangkat terakhir Letnal Kolonel Infanteri dan tugas terakhir sebagai Kepala Kesehatan Jasmani di Kodam XIII/Merdeka, Sulawesi Utara. Sedangkan ibunda Gatot, anak seorang Kepala Pertamina di Cilacap, memiliki tiga orang kakak kandung yang mengabdi sebagai prajurit TNI AD, TNI-AL dan TNI-AU.

Karena anak tentara, sejak kecil Gatot hidup berpindah-pindah. Setelah dari Tegal, Gatot  pindah ke Cimahi, Jawa Barat, hingga kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah itu Gatot pindah Cilacap sampai kelas 2 SMP. Lalu Gatot pindah ke Solo hingga tamat SMA.

Sebenarnya Gatot ingin menjadi arsitek. Makanya Gatot mendaftar ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tapi mengetahui anaknya mau masuk l UGM, ibundanya berpesan: “Ayahmu hanya seorang pensiunan. Kalau kamu masuk UGM, maka adik-adikmu bisa tidak sekolah.”

Mendengar hal tersebut, Gatot berubah haluan. Diam-diam Gatot berangkat ke Semarang, mendaftar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) melalui Kodam Diponegoro.

Sekembalinya dari Semarang, Gatot memberitahu ibunya bahwa ia sudah mendaftar ke Akabri. Ibunya langsung mengizinkan dengan pesan, “Jika kamu menjadi tentara, kamu harus menjadi anggota RPKAD.”

Menurut Gatot, ibunya terobsesi anaknya menjadi anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan sekarang jadi Kopassus, karena rumah orang tua ibunya dekat dengan markas RPKAD di Cilacap.

Setelah lulus AKABRI 1982, Gatot berusaha masuk menjadi anggota Kopassus (nama baru RPKAD). Tapi dalam usaha pertama Gatot tidak diterima. Pada kesempatan berikutnya, setelah berpangkat Kapten, saat bertugas di Pusat Latihan Tempur di Baturaja, Sumsel, Gatot kembali mendaftar masuk Kopassus. Kembali tidak diterima.

Sebenarnya kesempatan tersebut sudah habis. Tapi Gatot tidak pernah menyerah. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar suatu hari bisa diterima menjadi prajurit Kopassus.
Kesempatan itu akhirnya datang setelah Gatot menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), 25 Juli 2014 –15 Juli 2015.

Tak lama setelah pelantikan menjadi KSAD, Gatot memanggil Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya ingin mendaftar pendidikan Kopassus. Tapi Agus Sutomo menyampaikan, “Tidak usah ikut pendidikan Pak, nanti Bapak saya kasih brevet kehormatan saja.”

Tapi Gatot menolak. Gatot bersikukuh mau mendapat baret merah melalui jalur normal. Maka masuklah Gatot menjadi siswa Kopassus. Gatot mengikuti semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Untuk itu, Gatot harus melalui ujian yang keras, antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di Batujajar.

Kemudian longmarch, hingga berenang militer selama lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus. Gatot lolos mulus.

Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi Keluarga Besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 September 2014. Tidak seperti “brevet kehormatan” Kopassus yang disematkan di dada sebelah kiri penerimanya, brevet pasukan komando tersebut disematkan didada sebelah kanan Gatot, sebagai tanda ia menerimanya melalui prosedur selayaknya yang harus dilalui setiap prajurit Kopassus.

Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo.

Di depan makam kedua orang tua nya beliau langsung berdoa dengan menggunakan baret merah beliau menunjukan ysng menjadi keinginan kedua orang tuanya semasa waktu masih hidupnya anaknya ingin menjadi prajurit RPKAD. Semoga arwah kedua org tua beliau tenang di alam kuburnya. (Aju)