IKM Diminta Lestarikan Produk Berbasis Kearifan Lokal

IKM Diminta Lestarikan Produk Berbasis Kearifan Lokal

Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih. / Humas Kemenperin

SHNet, Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) diminta untuk melestarikan produk berbasis kearifan lokal karena dapat menjadi indentitas dan perekat bangsa. Apalagi
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya dalam keanekaragaman
hayati di dunia, sekaligus negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat
beragam.

“Untuk itu, kita perlu mempertahankan kearifan lokal, termasuk kearifan budaya
leluhur sehingga pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi
perekonomian daerah setempat karena sebagian besar pelaku industri yang
berbasis pada budaya adalah IKM,” kata Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati
Wibawaningsih pada acara Dies Natalis ke-51 Universitas Trisakti di Jakarta, Selasa
(29/11).

Selain diyakini sebagai perekat sosial yang kerap menjadi acuan dalam menata
hubungan dan kerukunan antar umat beragama, kearifan lokal dapat juga dipandang
sebagai identitas bangsa. Sebagai contoh, produk budaya yang bertumpu pada
bahan baku yang berbasis pada kearifan lokal, misalnya kain tenun tradisional.
“Kain tenun merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang bernilai
ekonomi tinggi. Berbagai motif tenun berupa simbol kehidupan masyarakat
mengandung filosofi dan nilai budaya daerah asalnya,” ujar Gati.

Bahkan, industri tenun berperan sebagai salah satu penggerak perekonomian
regional dan nasional serta memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap devisa
negara, penyerapan tenaga kerja dan memenuhi kebutuhan industri sandang dalam
negeri. “Nilai ekspor kain tenun pada tahun 2015 mencapai USD 2,6 juta dengan
tujuan utama ekspor ke Eropa,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam rangka peningkatan nilai tambah produk tenun, Kemenperin
mendorong para perajin tenun bermitra dengan industri pakaian jadi. “Para perajin
tenun diarahkan untuk membuat kain yang disesuaikan kebutuhan industri hilirnya,
misalnya untuk pakaian, adanya pertemuan pola motif tenun dapat menghasilkan
pakaian yang bernilai ekonomi tinggi,” jelas Gati.

Menurutnya, kemitraan tersebut perlu didampingi oleh pemerintah sebagai
fasilitator sehingga keterkaitan antar industri dapat terjaga. Pemerintah juga tengah
mengkaji bentuk insentif yang dapat diberikan kepada industri fesyen dan industri
hilir lainnya yang menggunakan kain tenun produk perajin, misalnya berupa
kemudahan perolehan kredit usaha rakyat (KUR) atau pembebasan pajak
pertambahan nilai (PPN).

Undang-Undang Nomor 3 tentang Perindustrian, menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan industri yang memiliki keunikan dan merupakan warisan budaya
bangsa adalah industri yang memiliki berbagai jenis motif, desain produk, teknik
pembuatan, keterampilan, dan/atau bahan baku yang berbasis pada kearifan lokal.
“Produk tersebut antara lain, batik, ukir-ukiran kayu dari Jepara, kerajinan perak
dari Yogyakarta, dan patung Asmat,” tutur Gati.

Dalam menghasilkan produk berbasis budaya, Gati pun menegaskan, teknologi
berperan penting pada proses industrialisasi karena terkait dengan teknik
memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan.
“Dalam hal ini, peran perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan sangat penting
untuk menciptakan teknologi yang dapat dengan mudah diterapkan oleh masyarakat
dan industri, sehingga mampu menciptakan suatu produk berbasis kearifan lokal
yang berkualitas baik dan memiliki daya saing serta nilai ekonomis yang tinggi,”
paparnya. ***

Sumber:
BIRO HUMAS Kementerian Perindustrian