Suran dan Ulang Tahun Padepokan Tjipta Boedaja

Suran dan Ulang Tahun Padepokan Tjipta Boedaja

Pementasan Kesenian Lapangan, pada acara Suran di Padhepokan Tjipta Boedaja, Dusun Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. (SHNet/Yoko Masturait)

SHNet, Magelang – Tradisi Suran umum dilakukan oleh warga masyarakat Jawa, tak terkecuali bagi mereka yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Salah satu komunitas yang rutin menyelenggarakan tradisi ini adalah Padepokan Tjipta Boedaja yang berlokasi di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Peringatan Suran umumnya dilakukan selama bulan Suro yang kali ini jatuh pada bulan Oktober 2016. Hingga hari ini, Kamis (20/10), warga lereng Merapi belum semua menyelenggarakan tradisi tersebut. Sementara pada tahun ini, Padepokan Tjipta Boedaja telah menggelar Tradisi Suran tanggal 13 sampai dengan 16 Oktober.

 

Pementasan Wayang Orang Gabungan dengan Lakon Pramusinta Takon Bapa, pada acara Suran di Padhepokan Tjipta Boedaja, Dusun Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Acara ini diselenggarakan rutin oleh masyarakat setempat. Tahun ini Suran digelar pada 13 sampai dengan 16 Oktober 2016. (SHNet/Yoko Masturait)
Pementasan Wayang Orang Gabungan dengan Lakon Pramusinta Takon Bapa, pada acara Suran di Padepokan Tjipta Boedaja, Dusun Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Acara ini diselenggarakan rutin oleh masyarakat setempat. Tahun ini Suran digelar pada 13 sampai dengan 16 Oktober 2016. (SHNet/Yoko Masturrait)

Tradisi Suran di lokasi yang berjarak sekitar 9 km dari puncak Merapi ini sekaligus merupakan ulang tahun berdirinya padhepokan yang ke 81. Pusat kegiatan para seniman Desa Sumber ini, didirikan sejak tahun 1937 oleh Romo Yoso Sudarmo. Saat ini putra Romo Yoso Sudarmo yang bernama Sitras Anjilin menjadi ketua Padepokan.

“Sluman Slumun Slamet”
Keluarga Padepokan disengkuyung masyarakat Dusun Tutup Ngisor menyelenggarakan acara Suran dengan tema “Sluman Slumun Slamet”. Menurut Sitras Anjilin, arti kalimat tersebut adalah sebuah mantra atau doa meminta keselamatan dan ketenteraman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun Suran berisi berbagai kegiatan, antara lain Slametan atau Kenduri, Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil, Uyon-uyon Candi, Pemasangan Sesaji, Tari kembar Mayang, Pentas wayang Sakral, Kirab Jathilan, Pentas Kesenian Lapangan yang diikuti sembilan komunitas kesenian, Malam Apresiasi, serta pentas Wayang Orang Gabungan sebagai penutup keseluruhan acara Suran. (Penulis Yoko Masturrait, warga Lereng Merapi, Magelang, Jawa Tengah)

Baca juga: Mahasiswa Filipina Belajar Olahrasa di Merapi