Seliwati, Melawan Perusahaan Sawit dengan Jengkol

Seliwati, Melawan Perusahaan Sawit dengan Jengkol

(https://www.youtube.com/watch?v=pVIdnJsezuY. Film documenter ini merupakan satu dari tujuh film yang dipilih melalui kompetisi video anak muda dan penelusuran atau scouting yang diselenggarakan oleh Oxfam Indonesia)

SHNet, JAKARTA –  “Saya dipanggil jengkol. Saya suka! Jengkol telah merubah hidup orang di kampung saya!” Seliwati, perempuan asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan memimpin warga kampungnya untuk merebut kembali lahan yang selama bertahun-tahun diambil alih oleh PTPN 15.

Seliwati tidak merebut lahan tersebut dengan mengangkat parang dan apalagi senjata. Tidak pula dengan menggelar aksi demonstrasi. Tidak! Cukup dengan menanam jengkol. Ya jengkol, yang mungkin Anda hanya ingat sebagai makanan yang berbau menyengat dan tajam.

Namun, sejatinya jengkol tidaklah demikian. Kalau Anda pandai memasak dan pintar membumbuinya, jengkol memiliki citra rasa yang luar biasa enak. “Tergantung cara memasak. Tapi, bagi saya, jengkol itu hidup dan mati warga kampung saya ke depan,” kata Seliwati di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seliwati terpilih sebagai salah satu dari sembilan pejuang pangan oleh Oxfam Indonesia dalam rangka Hari Pangan Sedunia 2016. Koq bisa? Seliwati sendiri merasa aneh. Awal mula ia berusaha beberapa tahun silam, ia dianggap orang aneh oleh warga kampungnya. Petani di Luwu Utara menanam merica, tapi ia malah menanam pohon.

“Banyak yang bilang saya orang gila. Tapi, saya tanam saja,” katanya. Apalagi pada saat bersamaan, banyak lahan warga yang kemudian diambil oleh perusahaan perkebunan sawit, sehingga menanam tanaman yang mendapat hasil dalam jangka waktu lama dianggap tak masuk akal.

Namun, cerita berubah setelah tanamannya berusia empat tahun. Jengkol mulai berbuah dan banyak yang membelinya. “Saya puas. Senang melihat buahnya,” katanya. Seliwati mengaku terinsipirasi dengan tetangga di kampung orang tuanya yang merupakan trasmigran dari Pulau Jawa. Tetangga orang tuanya itu bisa hidup berkecukupan hanya dengan menanam jengkol di sekitar rumahnya.

“Saya bawa ke kampung orang tua saya. Saya tunjuk ke tetangga itu, dia kaget, koq buahnya lebih bagus. Saya jadi lebih semangat lagi,” ujarnya.

Semangat itu tidak disimpannya sendiri. Ia berusaha menularkannya kepada warga yang lain dan kini sukses. Sebagian besar warga kampungnya kini beralih dari kebiasaan menanam merica menjadi petani jengkol.

Efektif dan Banyak Manfaat

Menanam jengkol lebih murah dan efektif. Biaya pengerjaannya jauh lebih murah dari menanam merica. Menanam merica terkadang tidak bisa menutup biaya pengerjaanya. Sementara menanam jengkol, hanya sekali tanam untuk belasan atau puluhan tahun. Makin tua umur pohonnya, buahnya makin banyak.

Satu pohon jengkol berumur lebih dari lima tahun, untuk saat ini rata-rata bisa menghasilkan uang sebesar Rp 500.000-600.000. “Kalau satu hektar lahan bisa tanam 100 pohon saja, apa kami tidak kayak kalau punya lahan sampai dua hektar? Setahun kami panen dua kali,” jelasnya.

Menurutnya, harga bibit jengkol saat ini masih sangat murah, Rp 20.000/kg. Dalam sekilogram tersebut bisa mencapai 80-100 biji yang bisa tumbuh. Persemaian bibitnya pun gampang. “Tanam saja satu pohon dengan jarak 10 meter. Ini kan kayu. Kalau sudah tua kayunya keras dan bisa untuk bikin macam-macam juga. Harganya mahal,” katanya.

Selain buah dan kayunya yang kuat, Seliwati juga mengajak warga menanam jengkol karena bisa menahan banjir dan longsor. Ia ingin alam sekitarnya hijau dan asri. Kalau semua lahan dikonversi jadi lahan sawit, dirinya membayangkan suhu udara semakin panas dan warga kampung Luwu Utara semakin tercekik masalah ekonomi.

Setelah sebagian warga menanam jengkol, katanya, PTPN 15 tak banyak berdaya. Warga berhasil meyakinkan dan diyakinkan kalau jengkol lebih menguntungkan bagi mereka dibandingkan dengan sawit. Lahan yang sebelumnya dikuasi PTPN 15, kemudian ditinggalkan oleh perusahaan tersebut. Warga kampung kini mengambilnya kembali dan menjadikannya hutan jengkol. “Saya bangga dengan jengkol!” katanya. (IJ)