Lindungi Kelangsungan Industri Hasil Tembakau Indonesia

Lindungi Kelangsungan Industri Hasil Tembakau Indonesia

Tembakau/Ilustrasi/Ist

YOGYAKARTA – Lebih dari 1000 petani tembakau dan cengkeh yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), Karya Tani Manunggal (KTM) Temanggung, dan Gerakan Masyarakat Tembakau Indonesia (GEMATI) melaksanakan aksi damai pada 29 Oktober 2016. Aksi itu bertepatan dengan Hari Petani Tembakau Sedunia dengan mengusung tema “Selamatkan Penghidupan Kami”.

Aksi damai ini ditujukan untuk menyatakan aspirasi para petani kepada Pemerintah terkait dengan kelangsungan industri hasil tembakau nasional. Mereka berharap Pemerintah dapat memajukan pertanian tembakau dan cengkeh nasional serta melindungi industri hasil tembakau Indonesia dari tekanan peraturan internasional yang eksesif seperti Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Harapan tersebut disampaikan dalam sebuah Petisi. Penandatanganan petisi disaksikan utusan Sultan Hamengkubuwono X Riyadi. “Aksi damai yang kami laksanakan hari ini diharapkan dapat mengingatkan Pemerintah dan masyarakat umum akan pentingnya pertanian tembakau dan cengkeh bagi Indonesia dan jutaaan masyarakat yang mendapatkan penghidupan darinya,”ujar Soeseno, Ketua Umum APTI Nasional.

Tembakau merupakan salah satu komoditas strategis perkebunan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup, sesuai dengan UU No. 39 tahun 2014.

Djuwari, Ketua APTI Provinsi Yogyakarta menambahkan, pertanian tembakau merupakan bagian dari warisan bangsa Indonesia dengan nilai ekonomi yang tinggi.  Namun, hingga kini produksi dan produktivitas pertanian tembakau belum mencapai titik optimalnya sehingga keuntungan yang diterima petani terbatas dan hal ini mempengaruhi tingkat kesejahteraannya.

“Para petani tembakau berharap bisa mendapatkan bantuan sarana dan prasarana pertanian yang sama seperti komoditas lainnya. Yang kami perlukan antara lain pendampingan teknis, akses permodalan, serta pembangunan infrastruktur pertanian yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tembakau,” katanya.

Dengan demikian, pertanian tembakau bisa kembali jaya dan Indonesia bisa menjadi produsen bahkan eksportir tembakau terbesar di dunia.

Ancaman FCTC
Dalam aksi damai tersebut, para petani tembakau dan cengkeh juga menuntut pemerintah untuk melindungi penghidupan mereka dan Industri hasil tembakau dari ancaman FCTC. FCTC merupakan suatu peraturan internasional yang ketentuan-ketentuannya mengancam keberlangsungan pertanian tembakau dan cengkeh.

Salah satunya adalah dorongan konversi tanaman tembakau ke tanaman lainnya. Padahal diketahui di beberapa daerah saat musim kemarau, petani hanya bisa menanam tembakau karena tidak memerlukan air yang banyak.

“Melalui aturan ini, FCTC melanggar hak konstitusional petani yang dilindungi oleh  UU No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, di mana petani mempunyai hak untuk membudidayakan tanaman pilihannya,” katanya.

Beberapa ketentuan lain dalam FCTC yang mengancam penghidupan petani tembakau dan cengkeh antara lain, larangan penggunaan bahan tambahan termasuk cengkeh pada produk tembakau. Ini akan mematikan produk rokok kretek yang merupakan produk khas Indonesia.

Sementara itu, penerapan kemasan polos tanpa merek yang melemahkan daya saing produk tembakau Indonesia di manca negara, serta larangan interaksi antara pemangku kepentingan industri hasil tembakau dengan para pembuat kebijakan.

“Kami mendukung keputusan Presiden Jokowi yang lebih mengedepankan kepentingan nasional daripada mengaksesi suatu konvensi internasional yang hanya akan menyakiti jutaaan masyarakat Indonesia,” katanya. (Widhi Wahyuwidodo)