Watimin dan Rakyat Kecil yang Tak Ingkar Janji

Watimin dan Rakyat Kecil yang Tak Ingkar Janji

Ilustrasi/Ist

Watimin, seorang warga dari Desa Pucung Lor, Kroya, Cilacap, datang berjalan kaki ke Jakarta untuk menunaikan nazar. Berikut ini perjalanan kisah Watimin yang dikirimkan ke redaksi SHNet.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari sepekan dari Desa Puncung Lor, Kroya, Cilacap ke Jakarta dengan berjalan kaki, akhirnya Watimin menemui Budiman Sujatmiko, anggota DPRRI RI, PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Cilacap.

Seperti diketahui, Watimin ke Jakarta bermaksud menunaikan nadzar kepada ibunya yang sembuh dari tumor mematikan. Pada waktu ibunya menderita, ia bernazar, berjalan kaki ke Jakarta untuk bertemu Budiman. Di Jakarta, niat dia bertemu Budiman jadi kenyataan, (Minggu, 31/7)sore di kediaman Budiman, Kompleks Perumahan DPRRI, Kalibata.

Pertemuan Budiman dengan Watimin bukan baru kali ini saja. Menurut Budiman, pertemuannya dengan Pak Watimin sejak ia masih kecil , dimana Budiman dilahirkan di Desa Majenang Barat dan berjauhan dengan Lor, Kroya.

Namun, Kakek Budiman tinggal di Kroya. Karena alasan itulah, menurut Budiman ia sering berkunjung ke rumah Kakeknya di Kroya, dan ketika berkunjung sempat bertemu beberapa tokoh masyarakat, termasuk Watimin.

Watimin (kanan) beserta Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Soedjatmiko.
Watimin (kanan) beserta Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Soedjatmiko.

Menurut Budiman, ia banyak menghabiskan waktunya di desa kelahirannya semasa kecil. “Waktu kecil di desa itu, saya diberi pelajaran dan menyaksikan bah Dimin yang gantung diri akibat lingkaran kemiskinan,” urai nya.

Sesudah itu, Budiman bertemu lagi dengan Watimin. Ketika itu Watimin pernah jadi buruh bangunan di Kalideres, tapi dia ditipu tidak dibayar oleh majikannya. Pada waktu itu, untuk menyelesaikan masalahnya, Watimin sampai jalan kaki juga ke Jakarta untuk mencari pemborongnya, tapi sayang tak ketemu. Akhirnya dia balik lagi jadi buruh tani di desanya.

Budiman tak pernah menduga bertemu dengan Watimin lagi, ini sungguh luar biasa. Kedatangan Watimin, baru diketahui Budiman malam sebelumnya (Sabtu, 30/7), ketika menerima pesan dari Watimin.

“Pertemuan ini juga, beberapa hal berharga penting kita petik, pak Watimin memberi pelajaran berharga bahwa rakyat kecil pasti menepati janjinya,” ujarnya sela-sela pertemuannya.

Menurut Budiman, orang-orang seperti Watimin ini banyak di desa-desa Indonesia. Watimin sendiri, penduduk tergolong miskin di Desa Lor, karena pekerjaan dia adalah buruh tani, hidup dari menjadi buruh di perkebunan dan sawah orang dengan upah sekitar 30 ribu per hari.

Ketika ditanya, apakah karena ia pernah tinggal di desa menjadi inspirasi kelahiran gagasan UU Desa, Budiman menjawab, tidak menolak, karena melihat bagaimana kemiskinan terjadi di desa.
Menurut Budiman, jika mau sejahtera, caranya mebangun dari desa, sebab desa menjadi produsen utama (primary production).

Pesan terakhirnya, UU Desa yang ada saat ini bisa mengubah wajah desa dengan menyediakan lapangan kerja yang lebih banyak, dan membangun dengan prinsip Nawacita.

Menutup pembicaraan dengan Budiman, “besok saya akan bertemu dengan ibunya yang baru sembuh dari sakit tumor bersama Watimin tentu saja,” katanya.

Sumber : jnibnasional@gmail.com