Gara-gara Burkini, Perempuan Ini Terpaksa Melucuti Pakaian Renangnya di Hadapan Polisi

Gara-gara Burkini, Perempuan Ini Terpaksa Melucuti Pakaian Renangnya di Hadapan Polisi

Sejumlah aparat kepolisian menunggu seorang wanita melepaskan burkini-nya di pantai Nice, Prancis. Beberapa kota di Prancis telah melarang penggunaan burkini di pantai setelah gelombang serangan teroris menghantui negeri ini. (Ist)

SHNet, NICE – Polisi Prancis tampak sedang memerintahkan seorang wanita melepaskan burkini (bikini dengan burqa) saat sedang bersantai di pantai Nice. Sementara itu, seorang wanita lain memilih membayar denda karena mengenakan celana legging, tunik, dan penutup kepala.

Isu tentang burkini di Prancis menambah panas debat tentang larangan menggunakan baju renang Islami yang sudah dilaksanakan sejumlah kota di seluruh Prancis setelah gelombang serangan teroris menghantui negeri itu.

Adegan polisi dengan pengunjung pantai itu, tepatnya di Promenade des Anglais, tertangkap kamera pengunjung pantai lainnya. Setidaknya ada 4 petugas bersenjata yang mengelilingi perempuan berburkini itu yang akhirnya melepaskan pakaiannya satu persatu.

Salah satu petugas terlihat menuliskan sesuatu atau mungkin sedang membuat surat pembayaran denda karena perempuan tersebut melanggar aturan berpakaian di pantai.

Di tempat yang berbeda, Cannes, seorang ibu beranak dua mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa dirinya didenda di pantai karena mengenakan celana legging, tunik, dan penutup kepala.

Dalam surat denda itu tertulis bahwa dirinya tidak memakai “pakaian yang menghormati moral yang baik dan sekulerisme”.

“Saya sedang duduk di pantai dengan keluarga saya. Saya mengenakan penutup kepala biasa. Saya tidak sebenarnya tidak ingin berenang,” kata perempuan berusia 34 tahun bernama Siam itu, Selasa (23/8).

Saksi mata Mathilde Cousin membenarkan pernyataan tersebut. “Yang lebih menyedihkan, ada orang-orang yang meneriakinya agar pulang saja dan yang lainnya bertepuk tangan untuk polisi. Anak perempuannya sampai menangis,” katanya kepada AFP. (Telegraph)