Belajar Membangun Desa dari Desa Nita

Belajar Membangun Desa dari Desa Nita

Desa Nita, Kecamatan Nita, Kota Maumere, Nusa Tenggara Timur tidak hanya menjadi juara I desa terbaik tingkat provinsi, tetapi juga juara umum desa terbaik tingkat nasional. (www.purnamanews.com)

SHNet, Jakarta- Desa Nita,Kecamatan Nita yang berjarak kurang lebih 15 Km dari jantung Kota Maumere, Nusa Tenggara Timur sudah menorehkan banyak prestasi baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat nasional.

Desa ini meraih juara umum dalam perlombaan antar desa tingkat nasional di Jakarta pada 15-18 Agustus 2016 lalu. Selain itu, Desa Nita juga menjadi desa percontohan bagi desa-desa lain di Indonesia.

Kepala Desa Nita, Antonius B. Ludju mengatakan, Desa Nita sekarang sudah ditetapkan oleh Menteri Dalam Negerri, Tjahjo Kumulo, sebagai icon “Desa Membangun, Membangun Desa”.

“Kemarin di Jakarta Desa Nita memang dapat juara satu umum saat perlombaan antar desa se-Indonesia dan ditetapkan sebagai Desa Lapsite atau desa contoh ini berarti seluruh desa yang ada di Indonesia dapat melakukan studi banding di Desa Nita,” ujar  Anton.

Dikatakannya, Desa Nita menjadi Desa contoh bagi seluruh desa di Indonesia bukan tanpa alasan. Desa Nita juga menjalankan strategi unggulan yakni membangun desa dengan dasar kebersamaan terus-menerus yang dilandasi dengan kesederhanaan.

“Desa Nita menjadi seperti sekarang karena kami tekankan kesederhanaan dan kebersamaan. Kalau kita mulai sesuatu dari hal-hal yang sederhana ditambah dengan kebersamaan yang terus dipupuk, saya pikir masyarakat juga akan tahu dan lihat itu sehingga lahir rasa memiliki. Kalau rasa itu sudah ada maka sudah pasti pembangunan akan berjalan dengan baik,” papar Anton.

Ia menegaskan bahwa dalam menjalankan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan di Desa Nita, ia bersama staf desa menerapkan tiga indikator yakni, partisipatif, transparan, dan akuntabel.

“Masyarakat Desa Nita saya dorong untuk selalu terlibat dalam upaya membangun desa. Rencana pembangunan dimusrenbangkan hingga tingkat RT/RW sehingga seluruh gagasan dapat digali langsung dari masyarakat. Masyarakat juga dilibatkan dalam pembangunan fisik yang ada di wilayah Desa Nita sehingga rasa memiliki itu tumbuh. Kemudian soal penggunaan anggaran, kami selalu buat laporan secara rutin dan dilaporkan secara transparan kepada semua masyarakat. kami cetak laporan tersebut dalam banner besar dan tempatkan di depan kantor Desa lalu kami buat leaflet sehingga disebarkan ke seluruh masyarakat jadi masyarakat tahu perkembangan pembangunan di desanya,” tuturnya.

Dia mencontohkan dalam membangun ruang publik yang dilakukan belum lama ini, dimana ruang publik tersebut dibangun atas usulan warga desa. Pemerintah desa kemudian mengalokasikan anggaran dalam anggaran pembangunan 2016.

Para pekerja ruang terbuka ini berasal dari warga Desa Nita. “Saya ingin melibatkan masyarakat. Mereka yang merencanakan mereka pula yang mengerjakan dan mengawasi,” ujarnya.

Ia dan stafnya juga selalu menjalankan roda pemerintahan desa dengan konsep pemimpin sebagai pelayan, artinya kehadiran aparat desa untuk melayani masyarakat. Dengan begitu ruang diskusi terbuka sehingga masukan demi pembangunan desa dapat ditangkap.

“Prestasi yang sudah diraih juga menjadi tanggungjawab karena itu ini menjadi PR besar untuk kami di Desa Nita untuk terus meningkatkan pembangunan baik itu sektor fisik maupun sektor SDM masyarakat di Desa Nita,” ujarnya. (Stevani Elisabeth)