Sekali Lagi, Menolak Takut

Sekali Lagi, Menolak Takut

Ilustrasi (openclipart)

Kasus bom bunuh diri yang terjadi di Markas Polisi Surakarta kembali mengguncang justru ketika umat Muslim sedang menyongsong hari raya Idul Fitri. Peristiwa ini sangat mengundang rasa prihatin, karena serangan itu terkesan serampangan dan membabi buta. Apalagi, bom itu menyasar institusi kepolisian. Kasus seperti ini bisa dilihat bukan teror kepada masyarakat semata tetapi teror terhadap aparat negara. Untuk itu, peristiwa semacama ini harus ditangani secara tuntas dan tidak boleh membiarkan aparat negara takut atau gentar terhadap gertakan seperti itu. Sebaba, setiap teror menginginkan adanya kecemasan, ketakutan, kekhawatiran. Jika ini terjadi, maka teror berhasil mencapai tujuan. Sebaliknya, teror hanya sekadar teror, jika hal seperti itu tidak membuat rasa takut. Menolak untuk takut merupakan bentuk dari kemenangan melawan setiap tindakan teror.

Samapai dengan saat ini, publik mendapat penjelasan yang utuh mengenai motif dan siapa di balik teror di Mapolresta Surakarta itu. Sebab, peristiwa itu seakan menjadi rentetan teror yang terjadi di Jeddah dan Madinah dan beberapa negara lain. Terlalu dini untuk mengaitkan peristiwa teror yang satu dengan yang lain, tetapi juga tidak mudah untuk mengusir persepsi, analisa dan kecurigaan adanya hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Untuk itu, semua pihak harus memberikan dukungan dan informasi, sehingga aparat penegak hukum mau dan mampu mengungkap kasus teror itu sampai tuntas.

Penuntasan pengusutan kasus ini bukan saja mencegah munculnya teror serupa di masa datang, tetapi juga akan memudahkan berbagai pihak untuk berkontribusi meredam bibit teror yang muncul dalam masyarakat. Sejujurnya, tindakan teror yang terjadi sangat brutal dan serampangan, karena jika berlandasan ideologi agama, mengapa simbol agama yang menjadi sasaran? Untuk itu, siapapun pelaku dan di belakang aksi teror sangat pantas untuk dikutuk karena tidak pantas mengatasnamakan agama apapun. Sebab, hakikatnya semua agama mengajarkan kebaikan. Jadi, tidak boleh ada toleransi sekecil apapun terhadap setiap aksi teror, karena aksi seperti itu merupakan tindakan antikemanusiaan dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Setiap kali muncul tindakan teror, kita juga seolah larut dalam rutinitas dan sangat mengkhawatiran jika peristiwa teror dianggap hal yang biasa. Kita harus mendorong aparat keamanan dan semua pihak untuk menjadikan setiap aksi teror sebagai peristiwa luar biasa, sehingga membutuhkan penanganan yabg juga luar biasa dan tentu tak pernah lelah untuk mencari akar masalah dari tindakan teror.

Publik juga sudah sering disuguhi dengan analisis dan penjelasan manakala terjadi aksi teror, tetapi yang dibutuhkan sebenarnya berbagai tindakan nyata yang terus-menerus dan tak kenal lelah untuk mengikis setiap potensi radikalisme. Berbagai komponen masyarakat perlu saling menguatkan dan bergandeng tangan untuk menemukan dan meredam aksi teror. Salah satu upaya uang paling mujarab adalah dengan menciptakan kesejahteraan bagi semua anak bangsa. Dengan kesejahteraan dan pendidikan yang baik akan menyulitkan dalang dari setiap teror merekrut pelaku teror bunuh diri.

Bagi kita, ideologi Pancasila menjadi dasar bersama untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sangat jelas, Indonesia merupakan negara Pancasila yang sangat menghormati agama dalam kehidupan berbangsa yang bernegara. Untuk itu, kita yakin aparat keamanan akan mampu menganbil tindakan yang semestinya untuk menjaga sendi bernegara.

Kita senantiasa berharap aparat dapat menuntaskan kasus bom bunuh diri dan memproses setiap orang yang terlibat dalam aksi teror di Surakarta, sehingga menjadi pembelaharan bagi siapaun yang ciba-coba melakukan aksi teror. Namun, di saat yang bersamaa, setiap upaya penanganan teror harus tetap mengacu kepada norma hukum ya g berlaku di negara yang kita cintai ini.