Rizal Ramli: Maluku Harus Manfaatkan Blok Masela!

Rizal Ramli: Maluku Harus Manfaatkan Blok Masela!

Menko Kemaritiman Rizal Ramli (kedua dari kiri) menyampaikan kuliah umum di hadapan ribuan orang di Kampus Universitas Pattimura Ambon Minggu (29/5). Rizal didampingi Wagub Maluku Zeth Sahuburua (tengah), Rektor Unpatti Marthinus J. Saptenno (paling kiri); dan Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina (kedua dari kanan), yang dipandu J.W.Mosse (paling kanan).

SHNet, AMBON – Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman, Rizal Ramli, mengatakan masyarakat Maluku harus memainkan peran dan memanfaatkan peluang yang akan mengikuti pengembangan Blok Masela. Pengembangan Blok Masela harus menjadi motor pengembangan wilayah dan pembangunan industri nasional.

“Bukan hanya persoalan darat atau laut semata, tetapi menjadi momentum untuk mengubah paradigma mengelolaan SDA di Indonesia. Kita harus tinggalkan ekspor gas alam semata. Harus dibuatkan industri dan memberikan nilai tambah,” tegas Rizal Ramli di Universitas Pattimura Ambon, Minggu (29/5).

Rizal Ramli yang hadir di Ambon untuk memberi kuliah di Universitas Pattimura Ambon mengatakan masyarakat Ambon jangan hanya rebut offshore atau onshore soal Blok Masela. “Itu hal yang sangat sederhana,” tegasnya.

Baca juga:

Selam di Ambon, Rizal Ramli didampingi oleh Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua, Rektor Universitas Pattimura, Marthinus J. Saptenno, Engelina Pattiasina (Direktur Acrhipelago Solidarity Foundation) dan Nono Sampono (anggota DPD RI).

“Ale rasa beta rasa. Apa yang Maluku rasakan, kami pun ikut merasakan. Maluku pahit, saya yang merasakan pahit. Maluku sedih, kami merasa bersedih. Maluku bahagia, kami bahagia,” tutur Rizal saat memberi kuliah umum di Universitas Pattimura.

Dalam kuliah umum tersebut ia menegaskan, dalam pengelolaan Blok Masela, hal yang penting adalah bagaimana sumber daya alam digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.  Ada dua hal yang membuat Indonesia tertinggal selama ini, yakni karena mengekspor sumber daya alam tanpa memberikan nilai tambah. Justru, negara importir yang menikmati hasil besar karena membangun industri.

“Blok Masela harus diikuti dengan pembangunan industri, termasuk industri turunan. Keuntungan yang diperoleh berlipat ganda jika membangun industri, belum lagi dengan adanya dampak tidak langsung,” katanya.

Sementara Engelina Pattiasina mengatakan, Maluku masih terpuruk dalam kemiskinan, sehingga membutuhkan terobosan  besar dan berani. “Rempah Maluku melahirkan kolonialisme, ikan melahirkan perbudakan, setidaknya kasus Benjina memperlihatkan gejala itu. Kami berharap, semoga Migas di Maluku tidak memunculkan neokolonial atau sejenisnya,” katanya.

Menurutnya, Blok Masela harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk merealisasikan Nawacita dan mengembalikan roh pasal 33 UUD 1945, sehingga benar-benar SDA digunakan untuk kesejahteraan rakyat. “Pemerintah pusat sendiri, pemerintah provinsi sendiri, DPRD dan semua kalangan kalau sendiri-sendiri, kita tidak akan mampu untuk memanfaatkan keberadaan Blok Masela. Tapi dengan kerjasama dan kebersamaan, semua itu menjadi mungkin,” tegasnya.

Zeth Sahuburua mengatakan, mewakili pemerintah dan masyarakat Maluku, mengucapkan terima kasih atas kebijakan pengelolaan Blok Masela. Secara khusus, Zeth menyoroti alokasi anggaran yang berdasarkan daratan semata, padahal Maluku memiliki wilayah laut sebesar 90 persen lebih. (IJ)