4 Saksi Tidak Lihat Langsung Pembakaran Barak

4 Saksi Tidak Lihat Langsung Pembakaran Barak

Ilustrasi/burning.wordpress-tradeplumbing.co.uk

Meulaboh – Sidang kasus dugaan tindak pidana pembakaran dan pengrusakan Barak Milik Perkebunan Sawit PT. Fajar Baizuri kembali di gelar pada senin 9/5/2015 di Pengadilan Negeri Meulaboh.

Sidang perkara pidana pembakaran dan pengrusakan Barak Milik Perkebunan Sawit PT. Fajar Baizuri di Kabupaten Nagan Raya telah berlangsung sejak 21 April 2016 lalu agenda pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum. Kemudian dalam proses nya telah sampai pada sidang ke lima tahap pembuktian dengan agenda pemeriksaan saksi.

Jaksa Penuntut Umum dari kejaksaan negeri suka makmue kabupaten Nagan Raya, mengahdirkan 4 orang saksi di hadapan persidangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Meulaboh.

Saksi yang dihadirkan, yakni Nurkhalis Hadji selaku saksi pelapor, Abu Azhar (keamanan lapangan) dari pihak perusahaan PT. Fajaw Baizuri, M. Yunus (karyawan Lapangan di Afdeling VI) serta Meijunni selaku Manager Umum Personalia PT. Fajar Baizuri.

Dalam siidang yang berlangsung sejak pukul hingga 10.30 – 13.20 WIB terungkap beberapa fakta yang sampaikan oleh para saksi. Dalam keterangan saksi tidak ada satu pun yang melihat kejadian secara langsung atau peristiwa tindak pidana pembakran yang terjadi di barak Afdeling VI milik perusahaan tersebut, sebagaimana didakwakan terhadap Para Terdakwa yakni Khadir, Musilan, Julinaidi dan Asubki.

Para terdakwa selama ini merupakan salah satu warga yang konsisten berjuang dalam hal hak atas tanah desa cot mee yang selama ini bersengketa dengan pihak perusahaan.

Sebagaimana keterangan saksi pelapor, ketika kejadian pembakaran tanggal 17 Juli 2015 yang bertepatan dengan lebaran Idul Fitri tahun lalu, ia tidak berada di lokasi. Saksi baru mengetahui ada kejadian kebarakan barak tersebut ketika di beritahu melalui telepon oleh salah satu karyawan perusahaan.

Ia tidak megetahui dan mengenali siapa pelakunya, kemudian dia diperintahkan oleh pihak Manager Umum Personalia perusahaan untuk melaporkan kejadian tersebut pada pihak Kepolisian Sektor kuala Kabupaten Nangan Raya pada siang harinya.

Saksi Abu Azhar juga menerangkan dia baru mengetahui ada peristiwa kebarakaran barak di Afdeling VI tersebut pada tanggal 17 Juli 2015 siang hari setelah habis zuhur.

Kemudian saksi M. Yunus juga menerangkan dia tidak melihat, hanya mengetahui pada siang harinya yang di beritahu oleh Alm Usman, salah satu karyawan perusahaan tentang telah terjadinya kebakaran di Afdeiling VI barak milik perusahaan tersebut.

Saksi Meijunni menerangkan tidak berada di lokasi saat kejadian, karena beliau sedang di Banda Aceh karena libur lebaran Idul Fitri. Dia baru mengetahui pada siang harinya dari karyawan perusahaan, dan dia kemudian memerintahakan saksi Nurkhalis Hadji untuk melaporkan kejadian kebakaran tersebut pada pihak kepolisian.

Pada intinya semua saksi yang di hadirkan penuntut umum tidak ada satu pun yang melihat secara langsung dan nyata siapa pelaku dan bagaimana perbuatan yang di lakukan pada saat terjadinya kebakaran Barak PT. Fajar Baizur tersebut.

Oleh karena itu, LBH Meulabih menilai kuat dugaan kasus ini terkesan sangat di paksakan. Karena fakta yang terungkap lainnya seperti keterangan saksi M. Yunus berbeda dengan keterangan di BAP penyidik. Saat di BAP dia menyebut mengetahui pertama sekali terjadinya kebakaran dari Muhaimin saat itu petugas pikiet di Afdeling I yang juga anaknya.

Namun di persidangan keterangan berbeda dan meyatakan keterangannya yang di persidangan lah yang benar. LBH meminta, demi tegaknya nilai negara hukum dan keadilan juga penghormatan Hak-hak Asasi Manusia kebenaran materil harus ditemukan dalam perkara ini.

Jangan sampai penegakan hukum menghukum orang-orang yang tidak pernah melakukan tindak pidana dan tidak bersalah. Sidang pembuktian selanjutnya akan di lanjutkan pada hari Kamis (12/5) dengan agenda pemeriksaan saksi lanjutan.

Sumber : Siaran Pers LBH Meulaboh