Negara Kepulauan

Negara Kepulauan

Peta Indonesia (ist)

Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Anggota DPRD DKI Jakarta, M. Sanusi memicu diskusi lama mengenai reklamasi di Pantai Utara Jakarta. Proses reklamasi telah berjalan sedemikian jauh. Upaya reklamasi telah berjalan selama bertahun-tahun dan sudah mulai terlaksana.

Setidaknya, ada rencana dan sedang berlangsung untuk membuat 19 pulau di sepanjang pantai utara Jakarta. Sejumlah perusahaan menjadi pengelola pulau buatan itu. Namun, reklamasi Pulau G yang dikelola grup perusahaan properti Agung Podomoro menemui masalah karena tertangkap tangan saat memberikan uang kepada anggota DPRD untuk memperlancar pembahasan Rancangan Peraturan Daerah yang mengatur reklamasi.

Ada banyak pertanyaan, sesungguhnya untuk apa reklamasi itu? Pemerintah DKI Jakarta memberikan alasan untuk menata dan memanfaatkan pantai utara yang memang sudah lama terkena polusi sampah orang Jakarta. Namun, bagi pegiat lingkungan, reklamasi membawa dampak negatif bagi kerusakan lingkungan dan biota laut. Semua argumen memiliki alasan pembenar baik yang mendukung maupun yang menolak kebijakan soal reklamasi. Padahal, kalau direklamasi akan merusak biota, tetapi kalaupun tidak direklamasi toh biota laut sudah punah oleh polusi dan sampah.

Tetapi, sebenarnya, di balik reklamasi itu menyimpan satu pesan serius mengenai pengelolaan negara ini. Reklamasi bukan hanya soal lingkungan, keterbatasan lahan, perizinan dan sebagainya. Tetapi, ada yang lebih jauh mengenai keadilan dalam pembangunan. Reklamasi ini semakin menambah keanehan pembangunan di negara ini.

Di kalangan orang Indonesia Timur, sering ada guyonan kalau orang Jakarta itu  aneh. “Orang Jakarta itu ‘aneh’. Masa, membangun jembatan meski tidak ada sungai. Sementara  di Indonesia Timur ada banyak sungai tetapi tidak ada jembatan”. Kira-kira begitu guyonan untuk melukiskan ironi pembangunan di negara yang kita cintai ini.

Reklamasi bukan hanya ada di Jakarta, tetapi juga ada di Lampung, Makassar, Bali dan sebagainya. Reklamasi dengan alasan apapun, pada akhirnya hanya untuk menjawab kekurangan lahan. Bahasa sederhana dari reklamasi itu, ada keinginan dan kemampuan lebih untuk membangun, tetapi kekurangan lahan.

Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar di dunia. Data Kementerian Dalam Negeri tahun 2004, Indonesia memiliki sekitar 17.504 buah. Kemudian, 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Bahkan, data  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada 2002 sesuai hasil citra satelit mencapai 18.306 pulau.

Selain itu, masih ada banyak pulau yang tidak dihuni. Indonesia masih kekurangan pulau, sehingga perlu membuat pulau. Lelucon yang tidak lucu.  Ada orang yang napsu membuat pulau, sementara ada pulau-pulau yang dilupakan, tidak terurus dan bahkan kita tidak sanggup untuk sekadar memberikan nama karena banyaknya pulau di negara ini.

Sebenarnya, ketika kota-kota besar kelebihan beban untuk pembangunan, maka kemampuan membangun dan finansial itu diarahkan ke wilayah yang justru sangat membutuhkan sentuhan pembangunan. Negara hadir untuk mengatur hal seperti ini. Sangat miris, ketika kota besar tidak mampu lagi menampung beban, justru laut yang ditimbun untuk membuat daratan. Sementara pulau yang sudah ada dibiarkan merana tak terurus.

Hanya saja, jika persoalan untung rugi menjadi dasar untuk mengelola negara, maka kita tidak heran akan menemukan ironi demi ironi. Kita perlu mengingatkan lagi pengelola negara, kalau mereka mengelola negara yang besar. Bisa jadi, ada daerah yang kaya karena ada pengorbanan dari daerah lain yang miskin. Kita berbangsa karena merasa sepenanggungan. Tetapi, hal seperti ini sepertinya hilang hari ini. Yang terjadi, yang daerah maju asyik dengan kemajuannya, daerah miskin merana dalam ketertinggalannya. Kita tetap satu bangsa.

Juga adalah fakta, semua wilayah tertinggal itu rata-rata merupakan wilayah dengan karakter kepulauan. Lihatlah Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua, Papua Barat, Riau. Daerah ini memiliki pulau-pulau kecil cantik luar biasa, tetapi berada dalam ketertinggalan. Orang di wilayah kepulauan ini mungkin hanya senyum kecut ketika melihat orang bertengkar untuk membuat pulau.

Ada banyak pulau yang belum teridentifikasi benar, tetapi adalah fakta ketika orang merasa kekurangan pulau, sehingga harus menimbun lautan atau membuat pulau baru. Mengapa negara tidak mengatur untuk membanguan ribuan pulau yang tidak tersentuh pembangunan?(*)