Adhitya Hanjaya, Dari Berdagang Jam Menjadi Spesialis Alokasi Keuangan

Adhitya Hanjaya, Dari Berdagang Jam Menjadi Spesialis Alokasi Keuangan

Ilustrasi (www.lovestartswithl.wordpress.com)

SHNet, Jakarta – “Teroboslah apa yang paling kamu takuti, teruslah maju dan maju. Berada di zona nyaman hanya akan membawamu menutup diri dan tak pernah bisa melihat harapan di luar yang sangat besar”. Kalimat ini terlontar dari Adhitya Hanjaya, Vice President of Business Junior Chamber International (JCI) Jayakarta.

Kalimat ini pula yang secara tak sengaja mengilhami semangatnya untuk terus berkarir di bidang bisnis, meskipun harus mengalami peristiwa jatuh bangun. Adhitya dibesarkan dari keluarga biasa-biasa saja. Naluri bisnisnya datang “kebetulan” pada 2003, saat usianya baru menginjak 21 tahun dan masih belum lulus kuliah dari Universitas Atmajaya, Jakarta.

Ia berkeinginan untuk bisa mendapatkan uang tambahan. Jualan jam tangan branded dengan harga bersahabat menjadi pilihan pertama bisnisnya. “Saya lihat jam tangan yang saya pakai. Harganya Rp 400.000. Saya lihat-lihat kok bagus ya. Kenapa saya tidak coba jual saja jam branded seperti ini,” katanya.

Berbekal modal Rp 400.000 pula, Adhitya mengawali bisnisnya, sebagai penjual jam tangan. Pasar pertama yang ia sasar adalah teman-teman di lingkungan kampusnya. Ia meyakinkan satu-persatu teman-temannya untuk membeli jam tangannya.

Ia meraup keuntungan Rp 50.000 dari penjualan pertama. Jam tangan dibagi dalam tingkatan kualitas. “Ada original, super, nomor 2, dan KW,” katanya. Pelan tapi pasti, pelanggan jam tangan yang memesan semakin banyak. Bukan hanya mahasiswa, tapi melebar ke orang kantoran.

Oleh karenanya, ia mendapat julukan DJ dari kawan-kawannya. “Tetapi singkatan DJ di sini bukan Disc Jokie melainkan Dagang Jam. Jadi saya di kampus terkenal dengan DJ Adhitya alias Adhitya Dagang Jam,” katanya sambil tertawa dalam perbincangan dengan SHNet, beberapa waktu lalu.

Tiga tahun menekuni bisnis jam tangan, Adhit mendapatkan keuntungan lebih dari 250 juta. Sebuah deretan nominal yang spektakuler bagi seorang mahasiswa yang belum pernah mencicipi dunia kerja kantoran ataupun bisnis profesional.

Pengalaman ini membuat Adhitya memiliki cita-cita yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya. “Saya ingin bekerja sendiri,” ujarnya. Pendapatan yang lumayan besar memicu keinginan Adhitya untuk melebarkan usahanya. Kali ini, ia tak puas dengan hanya berjualan jam tangan.

Adhitya Sanjaya/Ist
Adhitya Sanjaya/Ist

Ia mengepakkan sayap dengan mencoba bisnis handphone dan bermain saham. Tapi belakangan ia mendapati kenyataan bahwa mimpinya tidak sesuai dengan harapan. Bisnis handphone sepi pembeli, sementara bisnis saham mengalami kerugian. Uang ratusan juta hasil keuntungan berjualan jam tangan ludes hanya dalam dua minggu bermain saham.

“Saya stress luar biasa. Saya sempat putus asa. Tapi karena bergaul dan berada di lingkungan yang positif, saya jadi merasa tidak ada kesempatan berpikir negatif dan meratapi kegagalan dalam bisnis. Yang ada, harapan, harapan dan harapan,” tuturnya.

Bisnis Mengelola Keuangan
Untuk beberapa waktu, Adhitya benar-benar berada di titik nol. Tanpa ada lagi modal usaha. Kabar baik datang dari teman yang mengajaknya belajar mengembangkan diri untuk menjadi konsultan keuangan. Tawaran ini menarik hatinya. Karena tidak semua orang yang memiliki penghasilan besar bisa mengelola keuangannya secara baik.

Dunia baru ini, bukan tanpa tantangan. Selama ini, peran sebagai konsultan keuangan kadang dianggap belum penting. Padahal, tidak sedikit orang di Indonesia yang belum bisa mengelola keuangan secara baik. Memiliki pendapatan yang besar tapi masih memiliki hutang.

“Tantangan dalam setiap profesi ada, tapi mimpi besar dan harapan juga ada. Karena itu disaat menghadapi tantangan, saya ingat mimpi dan harapan. Yaitu menjadikan orang Indonesia melek dalam mengelola keuangannya,” ujarnya.

Dalam sebuah kasus yang ditanganinya, Adhitya menuturkan pernah mendapatkan klien dengan income 100 juta tiap bulannya. Tetapi, pengeluaran kliennya lebih besar daripada pemasukannya.

“Bagaimana pun ini tidak bisa dibilang sebagai orang kaya meskipun income-nya 100 juta. Karena orang kaya adalah, orang yang mampu mengelola pengeluarannya tidak lebih besar daripada income yang didapat,” jelasnya.

Tahun 2006, tepat saat usianya menginjak 24 tahun, boleh jadi tahun kegagalan dalam bisnis Adhitya. Tapi tekad belajar, bangun dari kegagalan dan merasa tak mati harapan membuat tahun itu juga sebagai langkah baru dalam bisnis di industri asuransi. “Klien pertama saya tanda tangan proposal sebesar 250 juta dan saya merasa Tuhan membuka jalan bisnis saya,” ucapnya.

Bangkit tanpa ketekunan adalah hal mustahil. Karena itu, meskipun sudah memetik nilai dari bisnis barunya, Adhitya tetap tidak ingin berhenti belajar, terutama pada bidang yang ditekuninya.

Ia pun mengikuti training seperti halnya Registered Financial Planner, Qualified Wealth Planner, sehingga ia dijuluki sebagai Money Allocation Specialist dan Financial Literacy Specialist. Kini, Adhitya sudah 10 tahun menggeluti bisnis di industri Asuransi.

Ia juga menjadi seorang leader di perusahaan asuransi terbesar di Indonesia. Menurutnya, di dalam hidup, manusia memiliki 3 kondisi. Pertama, hidup, sehat, produktif. Kedua, hidup tidak sehat, tidak produktif (resiko dalam hidup). Ketiga, tidak hidup, tidak produktif (sebuah kepastian).

Karena kondisi tersebut, manusia perlu memiliki rencana dalam hidupnya. Adhitya menciptakan beberapa konsep sebagai solusi untuk para kliennya, supaya saat resiko terburuk datang dalam hidup, kondisi finansial mereka tetap aman. (Ninuk Cucu Suwanti/Tutut Herlina)