Panama Papers: Bankir Inggris Bantu Pyongyang Jual Senjata

Panama Papers: Bankir Inggris Bantu Pyongyang Jual Senjata

Ilustrasi (Ist).

SHNet, Jakarta – Seorang bankir asal Inggris yang sudah tinggal selama 2 dekade di Korea Utara disangka menyusun perusahaan keuangan offshore rahasia yang diduga digunakan Pyongyang untuk membantu penjualan senjata dan melebarkan program senjata nuklir mereka.

Berdasarkan data Panama Papers, Nigel Cowie, lulusan Universitas Edinburgh yang mahir berbahasa Korea dan China, berada di belakang perusahaan Pyongnyang bernama DCB Finance Limited dan terdaftar di British Virgin Island (BVI).

Dia mengatakan, DCB digunakan untuk keperluan bisnis yang legal dan dia tidak menyadari adanya transaksi yang melanggar hukum.

Cowie pindah ke Korea Utara tahun 1995 ketika Kim Jong-il masih berkuasa. Dia langsung menjadi kepala bank asing pertama di Korea Utara, Daedong Credit Bank. Mengawali karirnya di hotel reyot Pyongyang bersama 3 staf, Cowie akhirnya memenangkan konsorsium yang pada tahun 2006 membeli 70 persen saham bank tersebut.

Dengan menggunakan alamat Pusat Internasional Kebudayaan Pyongyang, Cowie mendaftarkan DCB Finance Limited sebagai cabang dari bank tersebut pada musim panas 2006 bersama pejabat senior Korea Utara, Kim Chol-sam. Firma hukum Panama, Mossack Fonseca, memasukkan perusahaan tersebut dan mengabaikan potensi Korea Utara sebagai destinasi yang beresiko tinggi.

Pada Juli di tahun yang sama, Kim Jong-il memberikan sinyal pembangkangan terhadap sanksi Amerika Serikat dengan menembakkan 7 rudal balistik. Pada Oktober, Korea Utara melaksanakan uji coba senjata nuklir mereka dengan ledakan bawah tanah yang terkendali.

Tahun 2013, Amerika Serikat memberlakukan sanksi pada Daedong dan DCB, termasuk juga Kim Chol-sam. Diduga bahwa bank tersebut menyedikan “jasa keuangan” untuk penyalur senjata utama Korea Utara, perusahaan pengembangan pertambangan Korea, dan badan keuangan utama mereka, Tanchon Commercial Bank.

Sanksi untuk Daedong adalah karena “memainkan peran utama dalam mendukung program nuklir terlarang dan program rudal balistik”.

Ditjen Perbendaharaan Amerika Serikat mengklaim, sejak paling tidak pada 2006, Daedong Credit Bank menggunakan DCB Finance Limited untuk melakukan transaksi keuangan internasional untuk menghindari mata tajam institusi keuangan yang tidak mau berbisnis dengan Korea Utara.

Kim disangka memfasilitasi transaksi bernilai ratusan ribu dolar dan menangani jutaan dolar akun keuangan yang terkait Korea Utara.

Sebelum pindah ke Korea Utara, Cowie bekerja di HSBC Hong Kong. Dari Pyongyang, dia mempersilakan dirinya diwawancara oleh sejumlah wartawan asing yang mendatanginya, yang kemudian menilai Korea Utara sebagai lahan investasi yang tidak diapresiasi.

Dia mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa dia adalah bagian dari “upaya untuk memulihkan negara”. Ditanya mengapa dia tidak pilih Hong Kong maupun New York daripada bekerja di bawah tekanan diktator, dia menjawab: “Ini jauh lebih asyik.”

 

Jaringan Tak Terdeteksi
Panama Papers mengungkap kagagalan Mossack Fonseca untuk mengetahui bahwa perusahaan Cowie terhubung dengan Korea Utara, meskipun dia menyertakan alamatnya dalam surat menyurat.

Bankir itu juga menggunakan Mossack Fonseca untuk mendaftarkan kembali perusahaan lain, Phoenix Commercial Ventures Limited yang bekerja sama dengan Kementerian Budaya Pyongyang sebagai produsen pemutar CD dan DVD.

Hingga pada tahun 2010 Mossack Fonseca menyadari perusahaan tersebut berkaitan dengan entitas Korea Utara dan ditunjuk sebagai agen. Hal itu terjadi setelah firma hukum itu mendapatkan surat dari Badan Investigasi Keuangan British Virgin Island, menanyakan perincian perusahaan Cowie. Tahun selanjutnya, Cowie menjual saham di bank ke konsorsium Tiongkok.

Panama Papers juga berisikan surat menyurat sengit via email antara kantor Mossack Fonseca di BVI dan kantor pusatnya di Panama. Tahun 2013, anggota departemen kepatuhan perusahaan mengakui kalau alamat Cowie di Korea Utara “seharusnya bendera merah”. Dia menuliskan, “situasi itu tidak ideal dan tidak memuaskan mengeluarkan surat untuk menyoroti inefisiensi Mossack Fonseca di BVI.

Sanksi Amerika Serikat terhadap DBC dikeluarkan pada Juni 2013, tapi bertanggal sejak 2006 ketika Cowie masih menjalankan Daedong. Cowie meresponi, dia telah meninggalkan bank tahun 2011 untuk fokus pada komitmen bisnis lainnya. (theguardian.com)