Berani “Groufie” Bareng Ubur-ubur Kakaban?

Berani “Groufie” Bareng Ubur-ubur Kakaban?

Satu dari 4 jenis Ubur-ubur di Danau Kakaban. Ubur-ubur ini berenang terbalik alias kaki di atas, kepala di bawah. (SHNet/Diamanty Meiliana)

SHNet, Jakarta – Datang ke Derawan belum sah kalau tidak berenang bersama Ubur-ubur tanpa racun di Danau Kakaban. Menurut warga setempat, Ubur-ubur tanpa racun hanya dapat ditemui di dua lokasi di dunia. Pertama, di Pulau Palau di Kepulauan Mikronesia, Samudera Pasifik dan yang kedua di Indonesia, tepatnya ya di Danau Kakaban ini.

Perbedaan antara ubur-ubur tanpa racun di Palau dan di Kakaban ini adalah soal ukuran. Ubur-ubur tanpa racun di Kakaban lebih besar daripada yang ada di Palau. Bahkan, jenisnya pun lebih banyak yang ada di Kakaban.

Mengapa bisa begitu? Konon, karena tidak ada lagi predator yang mengancam mereka, sengat racun pada Ubur-ubur ini pun melemah. Tapi ini tidak terjadi dalam waktu sempit loh melainkan sudah melalui jutaan tahun berevolusi.

Kendati demikian, sengat racun di tubuh Ubur-ubur ini tidak sepenuhnya hilang. Para peneliti pun dikabarkan masih mempelajari penyebab pasti mengapa sengat di Ubur-ubur ini tidak aktif.

Selain tidak beracun, ubur-ubur di sini pun memiliki keunikan lain misalnya Ubur-ubur jenis Cassiopea Ornata. Ubur-ubur jenis ini bergerak terbalik alias kaki di atas dan kepala di bawah.

Menurut sejarah terbentuknya Danau Kakaban, peristiwa alam di zaman Holosin (9560-9300 SM), air laut tempat mereka hidup terperangkap dalam pulau. Warga setempat pun menamai pulau ini dengan nama Kakaban yang artinya memeluk. Jadi, Pulau Kakaban memang dimaksudkan sebagai pulau yang memeluk danau alias di tengah pulau ada danaunya.

Penampakan Pulau Kakaban. (Ist)
Penampakan Pulau Kakaban. (Ist)

Pulau Kakaban menjadi satu-satunya pulau di Indonesia yang memiliki danau di tengahnya. Karena ada dinding karang terjal setinggi 50 meter, maka air laut dan segala isinya yang terperangkap di tengah pulau tidak bisa lagi keluar.

Ubur-ubur ini pun harus bertahan hidup dengan cara melakukan simbiosis mutualisme dengan Algae. Algae sendiri adalah penghasil makanan yang membutuhkan cahaya matahari untuk memasak makanannya.

Nah, karena Ubur-ubur butuh makanan dan Algae butuh matahari maka dengan kakinya, Ubur-ubur pun mendorong algae ke permukaan agar bisa cepat terpapar matahari. Itulah mengapa kita bisa menemukan Ubur-ubur terbalik di danau ini.

Groufie bareng Ubur-ubur bukan lagi mimpi. This is real! (SHNet/Diamanty Meiliana)
Groufie bareng Ubur-ubur bukan lagi mimpi. This is real! (SHNet/Diamanty Meiliana)

 

Ubur-ubur jenis itu baru satu dari minimal 3 Ubur-ubur yang ada di danau Kakaban. Menurut warga setempat, peneliti yang sering beraktivitas ilmiah di Kakaban sudah menemukan setidaknya 8 jenis Ubur-ubur.

Berdasarkan papan informasi yang ada di pintu masuk kawasan danau, ada 4 jenis ubur-ubur yang sudah teridentifikasi yaitu Ubur-ubur bulan, Ubur-ubur totol, Ubur-ubur kotak, dan Ubur-ubur terbalik.

Ketika penulis berkesempatan berenang di danau Kakaban, hanya 3 jenis Ubur-ubur yang terlihat di pinggir danau. Ini sebenarnya sudah memuaskan hati sebab akhirnya bisa juga melihat keunikan Ubur-ubur yang berenang terbalik dan Ubur-ubur berenang miring alias bergerak ke kiri dan kanan.

Karena teramat tipis dan nyaris tak terlihat, usahakan memegang Ubur-ubur transparan seperti di dalam foto ini. Groufie bareng Ubur-ubur transparan tercapai! (SHNet/Diamanty Meiliana)
Karena teramat tipis dan nyaris tak terlihat, usahakan memegang Ubur-ubur transparan seperti di dalam foto ini. Groufie bareng Ubur-ubur transparan tercapai! (SHNet/Diamanty Meiliana)

Oh ya, ada juga loh Ubur-ubur transparan. Untuk bisa melihatnya, minta tolong kepada guide kamu untuk mencarikannya. Sebab, secara kasat mata Ubur-ubur itu tidak terlihat. Namun, ketika sudah ada di tangan, terlihat juga wujudnya. Uniklah pokoknya.

Jadi sudah siap berenang bersama Ubur-ubur? Jangan lupa groufie bersama mereka ya!

NO COMMENTS