Spotlight

Medium boleh berubah, tapi jurnalisme tak boleh mati.

Spotlight

Marty Baron tiba di Boston akhir Juli 2001, dua bulan sebelum tragedi WTC. Ia masuk ke ruang rapat redaksi the Boston Globe pada pagi 30 Juli 2001 dan meminta sebuah liputan yang akan “mengacaukan” sistem yang telah dibangun selama berabad-abad. Baron meminta wartawan mengungkap skandal pelecehan seksual yang dilakukan para pastor Katolik di Boston.

Baron bukan orang Boston dan ia Yahudi. Hal lainnya, Baron adalah editor baru di the Boston Globe. Usulannya di ruang rapat redaksi tanggal 30 Juli 2001 tersebut bisa dianggap terlalu berani dan nekad.

Namun Baron hanyalah seorang jurnalis yang gelisah. Ia tak nyaman dengan jurnalisme yang “rutin.” Jurnalisme yang melaporkan informasi yang sebenarnya sudah diketahui publik atau jurnalisme yang hanya berakhir dengan tanggapan,”ohhh…begitu toh ceritanya.”

Baron memimpikan sebuah jurnalisme yang “sesungguhnya”, reportase yang memiliki dampak segera bagi pembaca. Reportase yang detil, mendalam, akurat, komprehensif, mengungkap yang “gelap”, dan mampu mengubah keadaaan. Sebuah karakter asali jurnalisme yang ironisnya hari-hari ini mulai ditinggalkan oleh para pekerja media yang berorientasi pada kecepatan, rating, dan popularitas.

Baron tahu persis bahwa investigasi skandal pelecehan seksual yang dilakukan para pastor—figure yang seharusnya menjadi panutan moralitas—bukan “pekerjaan” mudah. Di Boston, penyingkapan skandal ini sama artinya dengan menembakkan peluru pada jantung kota karena mayoritas warganya adalah penganut Katolik. Menyingkap skandal tersebut sama artinya dengan membuka borok kawan sendiri, melangkahi kepatutan pertemanan, dan menyiram cuka pada luka yang bertahun-tahun mencoba ditutup.

Namun jurnalisme bukan dongeng tentang norma kepatutan. Jurnalisme adalah reportase tentang fakta.. Jurnalisme adalah reportase “pembelaan” terhadap kepentingan publik. Ia semestinya tidak bisa dibeli oleh institusi apapun, baik yang mengatasnamakan negara, agama, politik, apalagi uang.

Maka Baron pun mendapatkan sekutunya. Empat jurnalis yang tergabung dalam tim Spotlight di the Boston Globe bergerak melakukan investigasi. Penelusuran dimulai dari pengacara yang tengah meminta pengadilan membuka dokumen pelecehan seksual yang dilakukan seorang pastor di Boston, penelusuran data dan dokumen gereja, hingga perjumpaan dengan para korban dan pelaku. Temuan mereka membikin Boston, juga dunia, sesak nafas. Atas reportase tersebut, the Boston Globe diganjar Pulitzer pada tahun 2003.

Menonton sepak terjang para jurnalis tersebut dalam film yang diproduksi tahun 2015, kita merindukan spirit jurnalisme. Ada gumam setengah igau saat menonton film tersebut: “Demikianlah seharusnya jurnalisme bekerja.”  Ada rasa gamang tiba-tiba dengan produk jurnalisme “kebanyakan” yang muncul akhir-akhir ini yang sekadar cepat tapi mengabaikan kedalaman, yang memburu sensasi tapi mengabaikan akurasi, yang mengejar “klik” tinggi tapi malas melakukan verifikasi, yang mabuk popularitas tapi tak peduli apakah ada dampak bagi kepentingan publik.

Maka menyaksikan para jurnalis yang tekun menelusuri data, gigih mengonfirmasi narasumber, sabar merangkai “puzzle” sehingga publik bisa mendapatkan cerita yang utuh dan bukan potongan informasi yang menyesatkan, kita akan merasakan bahwa ada yang hilang dari jurnalisme hari ini yang hanya mengejar faktor kecepatan.

Ini sama sekali bukan soal menghadapkan secara diametral media cetak dan media online, juga bukan soal sentimentalitas pada medium jurnalisme konvensional. Tapi ini soal kerinduan terhadap esensi jurnalisme. Di saat teknologi informasi memungkinkan setiap orang menjadi menjadi “jurnalis”, memungkinkan sekelompok orang merintis bisnis media massa, dan segelintir orang menguasai imperium bisnis media, maka publik berhak bertanya: “Jurnalisme hari ini ‘melayani’ siapa?”

Kekhawatiran hari ini bukan lagi tentang tumbangnya media-media cetak berusia tua karena tak mampu bersaing dengan derap industri media—toh itu sebuah keniscayaan dari kemajuan teknologi informasi—tapi lebih kepada “matinya” jurnalisme.

Medium boleh berubah, tapi jika esensi jurnalisme yang melayani kepentingan publik dengan mengandalkan disiplin verifikasi turut padam, maka yang akan kita dapatkan hanyalah “umpatan” para penghujat atau “pujian” para penjilat.

Persis pada saat kita menganggap propaganda, entertainment, dan fiksi sebagai jurnalisme, maka saat itulah kita menikam jurnalisme tepat pada jantungnya.

NO COMMENTS