Civic-Islam: Jalan Baru Pasca Gagalnya Islam-politik

Civic-Islam bermaksud membongkar kefasikan Islam-politik pragmatis yang menjadikan Islam sebagai permainan dagang dalam arena pasar politik.

Civic-Islam: Jalan Baru Pasca Gagalnya Islam-politik

Oleh FAIZ MANSHUR

Islam-politik telah gagal. Ini terjadi bukan saja di Indonesia, melainkan di berbagai negara lain. Kegagalan itu disebabkan karena umat tidak punya imajinasi tentang “masyarakat warga” (civil-society). Yang dimiliki umat Islam hanyalah idealitas tentang keluarga (sakinah) dan idealitas daulah (kekuasaan/menguasai).

Seharusnya ada imajinasi yang komplet dengan tiga komponen yakni 1) Keluarga, 2) Masyarakat, dan 3) Negara, sehingga ketika umat Islam (baca: perwakilan umat/elit politik) berada di ruang kekuasaan memiliki kejelasan dalam memperjuangkan warga, bukan sekadar jelas memperjuangkan posisi dan kesejahteraannya untuk keluarganya.

Itulah mengapa saat ini pemikiran Civic-Islam sangat penting dihadirkan. Ia merupakan “sains-politik” untuk menghidupkan semangat Islam dalam pembangunan kehidupan bermasyarakat (berwarga, berbangsa dan bernegara) dengan semangat kemanusiaan atau yang dalam bahasa Islam mewujudkan peradaban.

Kalau istilah civil-society (masyarakat warga) titik fokusnya pada kajian kemasyarakatan, maka studi civic lebih merujuk pada subjek (individu) dari “masyarakat warga” tersebut. Dengan kata lain, studi ini menukik lebih mendalam karena berurusan langsung menyangkut hubungan antar manusia manusia dalam konteks public (kepublikan dalam entitas negara-bangsa).

Kata “Islam” hadir dalam diskursus ini karena tujuannya memang mempersoalkan hubungan Islam (umat Islam) di Indonesia berkaitan dengan politik nasional kontemporer yang dirundung persoalan, yakni demokrasi tak berhasil menjadikan warga berdaulat secara ekonomi, politik, dan budaya. Sementara dalam internal umat Islam juga terjadi malapetaka yang memprihatikan atas 1) gagalnya Islam-Politik, 2) merebaknya fundamentalisme, dan 3) mewabahnya eskapisme.

Kosong Imajinasi

Civic-Islam bermaksud membongkar kefasikan Islam-politik  pragmatis yang menjadikan Islam sebagai permainan dagang dalam arena pasar politik; menjadikan umat sebagai konsumen melalui transaksi politik liberal; berpikir cupet mendudukkan pengertian umat secara homogen dan membuang spirit heterogenitas; dan lebih parah lagi membiarkan berlangsungnya sistem yang menindas, yakni plutokrasi (kekuasaan politik yang didikte segelintir kaum elite) dan plutonomi (kekuasaan ekonomi yang dikendalikan oleh orang-orang kaya, dan hanya berputar pada kelompok orang kaya. (QS al-Hasyr 59:7).

Jika hal ini dibiarkan tanpa kendali niscaya akan berakibat umat terperosok pada fundamentalisme dan eskapisme. Sementara pada sisi lain, kelompok Islam inklusif banyak yang memilih akomodatif pada ekonomi-politik neo-liberal yang tak punya kepedulian terhadap kaum marginal.

Fundamentalisme adalah ideologi yang berbahaya bagi kemanusiaan. Berangkat dari ego dan hasrat menguasai dan menaklukkan. Ia menjauh dari nilai pencerahan (ulul albab). Imajinasinya memang untuk taat pada Allah dan kitabullah, tapi enggan memahami dan menjalankan (kedua ketaatan tersebut) di jalan sunnatullah.

Itulah mengapa fundamentalisme hanya bisa berfikir tentang masa lalu, tersiksa oleh masa kini, dan tak punya masa depan. Kalau frustasi bunuh diri. Yang takut mati, mengurung diri; menjadi eskapis dalam lorong-lorong keagamaan. Golongan eskapis menjadikan agama sebatas untuk mengatasi tekanan hidup (psikologis). Menjadikan Islam hanya tempat ritual berburu surga di jalan egoisme, dan lupa pada nasib buruk kehidupan tetangga.

Imajinasi baru

Kekosongan imajinasi tentang “masyarakat warga/sipil” dalam umat Islam merupakan titik mendasar, maka di situlah kemudian dibutuhkan revitalisasi pemikiran. Bermodal kata umat (ummah) yang universal dengan idealitasnya khaira ummah (umat terbaik), “masyarakat warga” bisa dibangun ke arah civic-virtue, yang pengertiannya adalah kewargaan dengan standar moral berkualitas (akhlakul karimah, ihsan, amal saleh, adab, peradaban, dll).

Target yang akan dicapai dari civic-islam adalah memproduksi subjek muslim sebagai pelaku gerakan yang inklusif dan transformatif untuk membawa semangat sosial-politik dalam rangka amar ma’ruf dan nahy munkar untuk kemudian juga menjadi subjek yang konsisten (takwa) terhadap (nilai-nilai) ke-Illahian.

Gagasan Republikanisme dengan semangat (active)-citizenship, rule of law, dan civic-virtue, sangat relevan diperjuangkan. Subjek citizenship yang aktif adalah semangat umat untuk bergerak melakukan transformasi sosial sebagai warganegara yang emansipatif (tidak pasif dan membiarkan despotisme) dalam rangka membumikan nilai-nilai tauhid, perjuangan hukum adalah pengejawantahan muslim untuk mencapai keadilan, dan semangat civic-virtue sebagai pilar amal perwujudan akhlak-karimah (etika luhur).

Dengan paradigma konstruktif ini, ada harapan bagi kita semua dalam upaya mengatasi kemacetan demokrasi dan menjadikan Islam yang inklusif dan transformatif untuk pembebasan guna mencapai tanggung jawab mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi warga.

Faiz Manshur adalah inisiator Gerakan Civic-Islam.

NO COMMENTS