Bertemu Mao di Desa Shaoshan

Bertemu Mao di Desa Shaoshan

Rumah Mao di Desa Shaoshan, Hunan.

Changsha, awal Mei 2011. Musim semi hampir berakhir. Alarm di hand phoneku berbunyi “kring”, dilayar muncul angka 07.00, sesuai dengan pesananku.Telingaku menangkap bunyi itu. Malas bangun sebenarnya. Tapi untuk sebuah janji, aku harus “membunuh” rasa lelah, malas, juga kantukku.

Janji bersama kawanku telah kubuat malam sebelumnya. Pukul 08.00 kami harus meninggalkan Changsha, ibu kota Hunan, sebuah provinsi di Tiongkok bagian tengah, menuju desa Shaoshan. Untuk sampai ke desa itu dibutuhkan waktu dua jam. Desa itu telah menarik perhatianku bertahun-tahun lamanya, sejak kubaca buku-buku sejarah tentang Revolusi Tiongkok.

Shaoshan bukan desa biasa. Seperti dikisahkan dalam banyak buku dan dituturkan beberapa kenalanku, desa itu memiliki cerita sejarah yang “melegenda” di Tiongkok. Di sanalah pemimpin besar revolusi rakyat Tiongkok, Mao Zedong dilahirkan. Untuk bisa sampai ke desa itu, bis menjadi alternatif transportasi.

Patung raksasa kepala Mao saat masih muda di kota Changsha.
Patung raksasa kepala Mao saat masih muda di kota Changsha.
Perjalanan bis dari kota Changsha berakhir di Xiangtan, sebuah kota kecil, 15 kilometer dari Shaoshan. Jalanan di kota itu memiliki trotoar lebar dan dinaungi rindangnya pohon-pohon perdu. Tanpa mengecek perkiraan cuaca sebelumnya, aku memilih memakai celana jean dan kaos tanpa lengan. Supaya lebih simple dan flexibel, maksudku. Tak disangka, suhu yang hangat di kota Changsa berubah dingin di Xiangtan. Suhu jatuh di angka 13 derajat.

Tapi, semuanya sudah kepalang tanggung. Kupikir, angin kencang dan suhu dingin akan segera hilang. Atau siapa tahu suhu berubah menjadi hangat kembali di Shaoshan, sehingga aku meneruskan perjalanan tanpa jaket ataupun selendang untuk penghangat.

Kami tak mau buang waktu. Kami pun bergegas menuju terminal yang berbeda. Tak seperti di Indonesia, yang tinggal naik bus dan duduk manis, aku harus memesan tiket terlebih dahulu di sebuah loket. Untuk mendapatkan secarik tiket itupun, aku harus menyerahkan paspor sebagai penanda jati diri, dan kartu tanda penduduk (KTP) untuk temanku.

Dalam waktu 20 menit kemudian, mini bus khusus yang kami tumpangi berhenti di sebuah tanah lapang, bisa dibilang terminal, di kelilingi pepohonan, tepat di depan museum yang di gapura masuknya terpampang bintang merah sangat besar.

Kami tak mencoba masuk ke museum itu, karena kupikir isinya hanya diorama dan buku-buku berhuruf kanji yang tak kuketahui bagaimana cara membacanya, apalagi artinya.

Bangunan di seberang museum itu lebih menarik perhatianku. Sebuah rumah yang bentuk bangunannya memanjang ke samping, terbuat dari bata merah tanpa plesteran semen. Di depannya ada danau ditumbuhi bungai teratai, di sekitarnya banyak sawah, dan di belakangnya banyak tumbuh pohon bambu dan pinus.

Rumah itu tak lain adalah rumah Mao Zedong, tempat ia dilahirkan, dan menghabiskan masa-masa hingga dewasa, sebelum akhirnya hijrah ke Changsa, mengorganisir orang-orang untuk bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok. Mao adalah seorang pendiri partai pada 1921.

Untuk bisa masuk ke rumahnya, kami harus rela antri ratusan meter panjangnya. Di samping kiri kananku, terpasang tali pembatas berwarna merah, yang jika orang melewatinya akan segera diteriaki oleh petugas.

Bagi masyarakat Tiongkok, Mao adalah seorang pemimpin yang berhasil mengantarkan bangsa itu setara dengan dunia barat. Wajar jika setiap hari ribuan orang datang hijrah ke rumah sang ketua, bukan hanya untuk merasakan aura, tetapi juga belajar dan mengingat sejarah revolusi itu sendiri.

Patung Mao di Shaoshan banyak dikunjungi dan diberi penghormatan oleh pengunjung yang datang.
Patung Mao di Shaoshan banyak dikunjungi dan diberi penghormatan oleh pengunjung yang datang.
Di sana banyak kujumpai pemandangan anak-anak berjalan kaki dari terminal Xiangtan ke Shaoshan, yang berjarak sekitar 15 kilometer. Mereka berbaris membawa bendera merah tanpa gambar, menyanyikan sebuah lagu yang tak kuketahui arti dan syairnya. Tapi kawanku mengatakan, mereka berlatih “long march”, untuk mengingat sejarah jatuh bangunnya revolusi Tiongkok. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu-lagu perjuangan dan militer.

Saking gandrungnya pada Mao, bahkan orang orang rela antri untuk mampir ke kamar mandi yang katanya dulu sering dipakai Mao untuk mandi. “Mereka bukan gila. Mereka hanya ingin tahu apa saja tentang Mao. Bagaimana pun juga Mao adalah pemimpin kami, di hati kami, sampai saat ini,” kata kawanku menjelaskan adegan antri panjang di depan kamar mandi itu.

Rumah utama terbagi dalam ruang tamu, ruang tidur, ruang beternak babi dan dapur. Di setiap ruang tidur tergantung foto si pemilik, orang tua, adik, dan Mao bersama istri Yang Kai Hui. Di belakangnya, lorong panjang menjadi jalan penghantar ke museum perjuangan.

Di dekat museum itu terhampar luas taman rakyat. Di tengahnya berdiri patung besar Mao yang terbuat dari perunggu. Bendera merah bergambar palu arit – bendera partai – mengelilingi taman itu membentuk formasi huruf “U”. Di sana, ratusan orang membawa bunga, bendera, “bersembahyang”, membungkukkan badan di depan patung Mao.

Mengapa mereka melakukan itu? Kukirim pertanyaan itu kepada kawanku. “Kami sangat menyayangi Ketua kami. Kamu lihat berapa banyak orang yang ke sini? Kami ke sini memang untuk bertemu Ketua Mao, kami selalu merindukannya,” kawanku menjawab.

Oleh : Johanna
Penulis adalah seorang solo traveller.

NO COMMENTS