Shazia Siddiqi, Dokter Rungu Wicara

Shazia Siddiqi, Dokter Rungu Wicara

Shazia Siddiqi, dokter rungu wicara (twitter @shazia_siddiqi)

SHNet, Jakarta- Saat bertemu dengan perempuan yang satu ini di Kementerian Sosial, pekan lalu, SHNet tak mengira kalau dokter asal Amerika Serikat ini seorang penyandang rungu wicara.

Tampilan fisiknya normal, namun ketika diajak berkomunikasi, barulah kita dapat mengetahui kalau Shazia Siddiqi, nama perempuan itu, seorang penyandang disabilitas rungu wicara.

“Saya seorang dokter yang tuli di Amerika Serikat. Banyak orang yang bertanya, bagaimana saya dapat mendengar detak jantung pasien melalui stetoskop. Tapi kita semua hidup di era teknologi. Saya memanfaatkan aplikasi Iphone untuk melihat detak jantung dan paru-paru di layar,” ujarnya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Menurutnya, sebelum ada undang-undang American with Disability Act (ADA), para penyandang disabilitas rungu wicaraharus bekerja keras untuk mengenyam pendidikan di sekolah umum. Hal ini lah yang dialami oleh Shazia, dimana dia harus belajar tanpa penerjemah mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Ia juga harus berusaha keras agar dapat mengakses informasi dan menjadi setara dengan teman-temannya. “Bila kami diberikan kesempatan, kami juga bisa menjadi apa yang kami inginkan,” ujarnya.

Shazia juga menjabat sebagai direktur eksekutif dari Deaf Abuse Women Network (DAWN), organisasi yang menangani kekerasan yang terjadi pada perempuan tuna rungu. Menurutnyal, kekerasan pada perempuan minoritas dengan disabilitas pun kerap terjadi di AS. Melalui organisasi DAWN, Shazia membuka ruang rehabilitasi bagi perempuan rungu wicara yang mengalami kekerasan, kemudian mengembalikan lagi kepercayaan diri mereka agar bisa membaur di masyarakat.

” Penelitian di AS, menunjukkan orang dengan disabilitas cenderung mengalami kekerasan lebih tinggi, mulai dari alkohol, secara seksual, dan kekerasan domestik. Satu dari dua perempuan rungu wicarai mengalaminya,” tukas Shazia.
Selama 20 hari, ia dan sembilan temannya berada di Indonesia. Selama di Indonesia, mereka membawa misi berbagi pengetahuan dan pengalaman bagi para tuna rungu wicara untuk memperjuangkan hak-hak guna meraih impian mereka.

Wakil Duta Besar AS Brian McFeeters mengatakan, Program Deaf Youth Leadership yang telah sukses di Amerika, kini 10 orang dari peserta AS dengan tuna rungu akan berbagi pengalaman dengan mengunjungi Jakarta, Yogyakarta, dan Bali mulai 3 – 16 Januari 2016. Mereka hadir untuk memberikan gambaran bagi non-disabilitas dan motivasi bagi para tuna rungu dan disabilitas lainnya mengenain kesempatan yang merata untuk berkompetisi di dunia.

NO COMMENTS