Perihal Otak dan Sampah Informasi

Di era online yang serba panen informasi ini, seringkali kita kelebihan informasi sehingga yang dibutuhkan adalah kontrol diri.

Perihal Otak dan Sampah Informasi

Oleh FAIZ MANSHUR

Otak kita adalah tempat untuk menerima dan juga produksi. Seperti halnya perut merupakan sarana untuk menerima dan memproduksi makanan untuk tubuh.

Mengapa banyak pikiran kotor yang kita temukan dalam media online saat ini?

Pertanyaan ini bisa dijawab sederhana melalui fakta-fakta yang setiap hari kita alami. Sekarang banyak orang gemar membaca. Itu suatu kemajuan. Tetapi tidak semua bacaan berarti memajukan pikiran. Ada makanan baik, ada makanan buruk. Ada pula bacaan baik, tak sedikit bacaan buruk.

Baik-buruknya bacaan memang relatif untuk dibicarakan dalam sebuah skema sederhana. Tetapi bagi yang menyadari tentang mutu pengetahuan, secara otomatis seseorang akan sadar pentingnya filter sebagai sarana memilah (kemudian memilih) mana yang sehat dikonsumsi, dan mana yang harus dibuang karena peluang membawa penyakit.

Sayangnya, sekolah kita tidak terlalu mendukung kemampuan manusia menjadi “berpengetahuan baik” sehingga banyak orang yang berpendidikan sarjana sekalipun kacau balau dalam memilih-memilah informasi.

Filter menjadi penting. Jika dulu gerakan membaca digemakan terus tanpa perlu memperhatikan pemilahan bacaan, sekarang slogan itu harus dibilang kelewat usang. Mayoritas masyarakat kita sudah membaca, sekalipun bukan literatur/buku yang kebanyakan lebih serius urusan pengetahuan. Internet sebenarnya juga banyak menyajikan pengetahuan bermutu. Namun, informasi yang cepat lebih banyak menyapa kita melalui jejaring media sosial. Kita pun sering tak menyadari bahwa pemenuhan informasi kita lebih banyak dihasilkan dari “pemberian orang” ketimbang “mencari untuk diri sendiri”.

Kebanyakan dari kita, membaca informasi karena digerakkan oleh tren keramaian yang hitungannya hanya beberapa hari. Sekalipun itu urusan tampak sepele, tetapi kalau urusan waktu membaca itu diakumulasikan, bisa banyak nilai yang terbuang percuma. Pikiran kita pun didekte orang lain.

Silih berganti, hilir mudik, berita-berita itu menimbuni otak kita. Dari sanalah otak kita menjadi begitu sulit mendapatkan bahan baku (informasi) menjadi pengetahuan yang bermutu. Kita hanya punya pengalaman mendapat sekian banyak informasi, tapi lupa asas pemanfaatan informasi itu untuk pemenuhan kemajuan pemikiran.

Melihat kenyataan ini, saya sering menemui teman-teman yang dulunya produktif dalam urusan gagasan/ide, berkarya dan menciptakan kreasi-kreasi semakin langka. Dulu banyak yang lambat menghasilkan karya tetapi mampu. Sekarang cepat berbicara tetapi langka karya.

Kurun perjalanan waktu memasuki 10 tahun era booming penggunaan internet, kita semakin kurang punya gairah untuk menciptakan kreasi yang berbobot (hasil produksi serius dan membutuhkan waktu). Kita semua masuk dalam jebakan “budaya hilir mudik” di lautan pesta tanpa pernah mengerti untuk apa itu maknanya pesta kecuali sekadar ikut-ikutan gembira—sekalipun tidak bahagia.

 

Memilah Informasi

Ada dua hal yang patut direnungkan. Pertama untuk kemajuan hidup (pemikiran, karakter, kualitas diri), dan kedua untuk menghasilkan produksi yang bermutu dari otak kita.

Untuk yang pertama, sesuai target kemajuan pribadi, sudah barang tentu mensyaratkan bahan produksi yang bagus. Mustahil menghasilkan hasil produksi pemikiran yang bagus jika bahan baku (informasi) mengambil barang-barang limbah. Kita mesti menggali bahan baku yang bagus, atau seandainya harus memanfaatkan limbah, maka diperlukan terobosan yang lebih genius untuk mengubah sampah menjadi emas. Setiap pengusaha akan selalu berpikir mencari bahan baku yang bagus. Adapun pemanfaatan limbah, dipastikan urusan sedikit orang. Sesuai hukum alam, sampah tetaplah sampah, yang selalu punya kelemahan sebagai barang bekas.

Menggali bahan baku bermutu dibutuhkan waktu, mapping, metode dan sikap untuk membuat skala prioritas. Bacaan harus dipilah, dianalisis, dipetakan secara baik dengan cara tertentu, atau minimal dengan pengalaman tertentu sehingga kita bisa mendapatkan informasi/pengetahuan yang baik.

Yang kedua, otak sebagai sarana produksi– selain membutuhkan bahan baku yang bermutu- juga harus serius dalam mengolah produksi itu. Serius artinya harus pelan-pelan, penuh kehati-hatian, dan tidak diburu untuk dipasarkan sebelum benar-benar memberi manfaat secara tepat dan syukur-syukur bernilai jangka panjang.

Ada baiknya kita melihat ke belakang, juga penting melihat ke depan bagaimana masa lalu dan masa depan tempat kita “pernah” mengalami dan “akan kita lalui” di hari-hari mendatang agar benar-benar menghasilkan sesuatu yang berguna. Kita bisa mengeluarkan apapun dalam waktu yang cepat, tetapi kita tidak bisa mengeluarkan barang bermutu serba instan.

Di era online yang serba panen informasi ini, seringkali kita kelebihan informasi sehingga yang dibutuhkan adalah kontrol diri; mencari yang baik sembari berani membuang sampah tak layak produksi.

Dalam aksi pewartaan, kita menyadari banyak informasi instan dan hanya mengajak pertikaian atau sensasi sesaat. Lebih parahnya lagi, kita sering menjadi agen atau lebih tepatnya korban penyebar informasi karena hobi membagi-bagikan berita yang maaf, nilainya sampah.

Politik (dalam artian propaganda kepentingan) seringkali menguatkan gejala instanisme dan penyampahan itu. Politik, bahkan sekarang urusan agama yang begitu lekat dengan nilai-nilai etik (virtue) mendadak menjadi urusan sampah dengan ragam hasutan, fitnahan dan saling memojokkan. Dan sialnya lagi, kita semua sering tidak tahu apa tujuan dari semua itu–kecuali sekadar ikut-ikutan.

Faiz Manshur adalah Direktur Nuindo Institute, Bandung.