Mengolok-olok Fanatisme

Di era dimana setiap orang berhak menyuarakan pendapat, pemaksaan sebuah “narasi besar” akan tampak sebagai sebuah kekonyolan

Mengolok-olok Fanatisme

Bom meledak di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1) lalu. Tujuh orang tewas. Lima diantaranya diduga sebagai pelaku pemboman, sedangkan dua lainnya adalah warga sipil berkewarganegaraan Indonesia dan Kanada.

Peristiwa pemboman tersebut terjadi mirip dengan pengambilan gambar syuting sinetron. Berlangsung sekitar setengah jam, diawali dengan bom bunuh diri di depan gerai Starbuck yang membikin panik warga, kemudian penembakan terhadap dua warga asing yang keluar dari gerai Starbuck yang membuat salah satu dari keduanya tewas.

Bersamaan dengan itu, dua orang melakukan bom bunuh diri di Pos Polisi Sarinah yang berjarak sekitar 100 meter dari gerai Starbuck. Akibatnya, dua pelaku tewas, satu polisi terluka, dan satu warga sipil yang berada di dekat pos polisi tersebut turut tewas terkena pecahan bom.

Di tengah kekacuan ini, dua orang yang melakukan penembakan di depan gerai Starbuck berbaur dengan kerumunan warga dan dengan santai mengeluarkan pistol untuk menembak aparat dari jarak dekat. Aksi saling tembak antara pelaku pemboman dan polisi pun tak terelakkan. Warga menonton di pinggir arena, seperti menyaksikan sebuah pertandingan bola, dan para penjual makanan maupun pedagang asongan di kawasan tersebut melakukan aktivitasnya seperti tak peduli dengan apa yang terjadi. Peristiwa pemboman dan aksi saling tembak antara polisi dan pelaku pemboman “selesai” dalam waktu sekitar setengah jam, dari pukul 10.45-11.20. Drama penyerangan berakhir dengan “kemenangan” polisi karena berhasil melumpuhkan “penjahat.” Jam 12.00 WIB, hanya selang satu jam lewat 15 menit dari peristiwa pemboman pertama di depan gerai Starbuck, Jl. MH.Thamrin kembali dibuka dan aktivitas berjalan seperti biasa.

Polisi menduga kuat serangan adalah “bagian” dari kelompok ISIS karena sudah ada peringatan kira-kira 2-3 bulan lalu setelah teror di Prancis.

Kita tentu mengecam tindak pemboman tersebut dan mengapresiasi langkah polisi yang bergerak cepat untuk melumpuhkan para pelaku, meski sedikit kecewa dengan kegagalan intelijen kita dalam mengantisipasi kejadian tersebut.

Namun yang membuat kita terpana adalah reaksi publik yang muncul setelahnya. Di lini media sosial, hanya selang beberapa saat setelah peristiwa itu terjadi, tagar #KamiTidakTakut muncul di twitter dan menjadi trending topics. Sejumlah foto yang menampilkan para penjual makanan dan pedagang asongan beraktivitas seperti biasa usai peristiwa pemboman diunggah dan dishare beramai-ramai di media sosial. Sementara meme yang “mengolok-ngolok” para pelaku pemboman juga ramai bermunculan pada hari yang sama, segera setelah peristiwa itu terjadi.

Bagi sebagian orang, pernyataan “Kami Tidak Takut” dan olok-olok yang muncul dalam bentuk meme di lini media sosial mungkin terkesan terlalu percaya diri dan tidak menunjukkan kepekaan terhadap tragedi yang terjadi. Namun kita melihat bahwa reaksi ini adalah bentuk yang paling “wajar” dari masyarakat kita.

Kita sudah terlalu sering ditakut-takuti dengan isme dan semuanya berekor pada kekerasan. Cerita kekerasan yang tak jarang diikuti dengan pertumpahan darah terjadi dari era pra kemerdekaan, kemerdekaan, pasca kemerdekaan di bawah Soekarno, Orde Baru di bawah Soeharto, hingga di masa reformasi.

Maka ketika sekelompok orang kembali mencoba mengibarkan “isme” dengan jalan kekerasan karena memiliki senjata di tangan, satu-satunya cara kita melawan—lewat “senjata” yang kita miliki—adalah dengan mengolok-oloknya, mengenolkan eksistensinya, membuatnya tidak ada. Tindak mengolok-olok ini terkesan memang tidak “revolusioner” karena seolah kita tidak mau tahu dengan “duduk perkara”, seolah kita tidak peduli pada kemungkinan skenario yang lebih “rumit” di baliknya, seolah kita warga negara malas yang enggan menelisik sebab di balik peristiwa.

Namun di era kebebasan informasi saat ini, saat masyarakat sipil menggunakan media sosial sebagai “senjata” perlawanan mereka, maka sikap mengolok-olok menjadi cara untuk membungkam arogansi fanatisme.

Di era dimana setiap orang berhak menyuarakan pendapat, pemaksaan sebuah “narasi besar” akan tampak sebagai sebuah kekonyolan. Maka ketika kekonyolan itu coba dipaksakan dengan cara kekerasan, satu-satunya cara untuk membungkamnya adalah dengan mengolok-oloknya, membuatnya menjadi nihil.

NO COMMENTS