Kabar Baik

Dunia membutuhkan lebih banyak “kabar baik” agar harapan—satu-satunya hal yang tersisa pada diri manusia saat dihajar tragedi—tak turut padam.

Kabar Baik

Paus Fransiskus bicara tentang media dalam misa peringatan Thanksgiving di Basilika Santo Petrus, awal Januari lalu. Ia berharap media memberi lebih banyak ruang untuk berita dan cerita positif dan inspiratif guna mengimbangi begitu banyaknya kejahatan, kekerasan, dan kebencian yang terjadi di dunia.

Ia bicara tentang kekerasan, kematian, dan penderitaan yang “tak terkatakan” yang dialami begitu banyak orang yang tidak bersalah, diantaranya para pengungsi yang dipaksa meninggalkan negerinya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tak memiliki rumah, makanan, dan daya dukung lainnya. Namun di tengah kecamuk tragedi tersebut, ada begitu banyak perbuatan baik untuk membantu mereka yang membutuhkan, pun jika perbuatan-perbuatan baik tersebut—menurut Paus Fransiskus—tak masuk dalam tayangan program berita televisi karena “hal-hal baik bukanlah sebuah berita.” Padahal media, menurut Paus, seharusnya memberi ruang pada gerakan-gerakan solidaritas ini agar tak dikaburkan oleh “arogansi kejahatan.”

Dunia, dalam kaca mata Fransiskus, membutuhkan lebih banyak “kabar baik” agar harapan—satu-satunya hal yang tersisa pada diri manusia saat dihajar tragedi—tak turut padam.

Sebenarnya kegelisahan Paus telah lama dirasakan banyak orang, termasuk awak media masa. Di tahun 2012, Huffington Post bahkan membuka kanal khusus untuk mengabarkan “hal-hal baik” lewat Huffington Post Good News. Hal sama dilakukan oleh ABC lewat ABC Good News. Bahkan ada sejumlah media yang sengaja mengkhususkan diri untuk memberitakan hal baik, seperti Positive News di Inggris.

Washington Post mulai mengikuti jejak ini dengan meluncurkan email newsletter bertauk The Optimist. Seluruh pelanggan Washington Post, otomatis akan menerima newsletter yang berisi cerita-cerita inspiratif oleh para penulis Washington Post ini.

Dari catatan Huffington Post, mewartakan kabar baik ternyata berbanding lurus dengan peningkatan bisnis. Traffic di Huffington Post melonjak hingga 85 persen sejak media ini memiliki Huffington Post Good News. Mungkin ini juga menjadi sebab sejumlah media massa besar mulai bergerak ke tren ini. Adagium lama yang menyebut “bad news is good news” tampaknya akan segera tergusur.

Namun mungkinkah pewartaan kabar baik akan dapat “menyembuhkan” dunia yang sakit? Sebagai pereda rasa sakit mungkin dapat, tapi tidak lebih dari itu. Tugas jurnalisme bukan sekadar meredakan rasa sakit, tapi juga bukan memprovokasi tindak kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Tugas jurnalisme adalah mencari tahu apa yang “salah” dari kekacauan yang terjadi di sekeliling kita. Kalaupun ada hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kekacuan itu, maka jurnalisme menunjukkan cara bagaimana melakukannya. Beberapa orang menyebutnya dengan istilah jurnalisme solusi atau jurnalisme konstruktif.

Esensi “kabar baik” yang dikemukakan Paus Fransiskus tampaknya juga demikian. Media massa tak harus menyulap diri sebagai semata medium penyebar informasi positif—yang dapat disalahpahami sebagai “media humas”—tapi lebih pada perekam dan pendorong perubahan yang berpegang pada nilai kemanusiaan. Dengan demikian, alih-alih menjadi vampire atau pelaku sadisme yang hanya dapat “hidup” dari penderitaan orang lain, media massa mestinya menjadi obor untuk menerangi yang gelap, menjadi pisau untuk membedah yang busuk, dan sekaligus menjadi guideline untuk menginspirasi publik tentang apa yang dapat dilakukan guna mengubah keadaan.

Warta keselamatan yang disampaikan para nabi yang muncul dalam sejumlah kitab juga tak melulu berisi tentang “berita positif”. Kerapkali bahkan berisi murka dan hardikan terhadap arogansi kejahatan. Namun yang membuat pewartaan itu kekal sepanjang jaman adalah karena ada harapan yang disampaikan di tengah murka dan hardikan, bahwa masih ada yang mungkin diharapkan dan dilakukan untuk mengubah segala hal menjadi lebih baik. Jurnalisme hari ini ditantang untuk melakukan itu.