Indonesia dan Lain-lain

Indonesia adalah paradoks. Ia menawan, tapi juga menjengkelkan.

Indonesia dan Lain-lain

Bagaimana mendefinisikan Indonesia? Seorang warga Amerika yang juga seorang jurnalis dan ilmuwan punya definisi menarik untuk Indonesia. Negeri yang pernah ia tinggali saat menjadi koresponden untuk Reuters dan the Economist pada tahun 1988-1991 serta saat menjadi ahli epidemiologi di Kementerian Kesehatan tahun 2001-2005 itu, ia definisikan sebagai “pacar yang nakal.” Di satu sisi sering bikin sakit hati, tapi di sisi lain selalu dirindukan. Menawan sekaligus menjengkelkan.

Setiap tahun, setelah kepergiannya dari Indonesia di tahun 2005, Elizabeth Pisani—nama jurnalis cum ilmuwan tersebut—selalu kembali ke Indonesia dan tinggal untuk beberapa minggu. Ia mulai memiliki perasaan “benci tapi rindu” dengan Indonesia. Namun yang membuatnya gemas, dunia tak mengenal Indonesia. Seberapapun Pisani mencoba mengenalkan “pacar nakalnya” ini ke dunia luar, antusiasme yang dimiliki Pisani tak bisa menular pada mereka. Pengalaman batin Pisani tentang Indonesia gagal ia bagi dengan mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri ini. Sementara buku-buku tentang Indonesia yang ada di lapak toko buku internasional hanya seputar tempat wisata. Tidak ada yang sungguh-sungguh bicara tentang esensi Indonesia.

Gemas dengan “kedangkalan” pengetahuan dunia tentang Indonesia dan penasaran dengan negeri “tak terdefinisikan” yang membangkitkan rasa rindu dendam ini, Pisani pun menghabiskan waktu setahun mengelilingi Indonesia. Menempuh 21.000 kilometer perjalanan dengan bus dan kapal, serta 20.000 kilometer dengan pesawat. Menginjakkan kaki dan tinggal di kota-kota dan kampung di 23 provinsi. Minum kopi dengan jenazah seorang nenek di pelosok Sumba hingga “blusukan” ke Gunung Kemukus.

Pisani mencoba mengumpulkan fragmen, potongan-potongan gambar yang bisa memberinya gambaran utuh tentang Indonesia.

Tidak ada yang menduga bahwa kesimpulan perjalanan Pisani bermuara pada teks proklamasi yang dibuat terburu-buru oleh sekelompok pemuda pejuang nasionalis yang digramatikalkan oleh Muhammad Hatta dan dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945. Kata “dan lain-lain” dalam teks proklamasi adalah esensi fleksibilitas Indonesia yang membuat bangsa ini survive hingga hari ini. Indonesia bukan kiri, juga bukan kanan. Bukan negara sekuler, tapi juga bukan agama. Tidak berwajah “Amerika”, tapi juga bukan “China”. Bukan sepenuhnya feodal, tapi juga tidak seutuhnya modern. Namun Indonesia adalah keduanya sekaligus.

Indonesia adalah paradoks. Di negeri ini, pengguna internet mencapai 78 juta jiwa. Sementara pengguna media sosial seperti facebook dan twitter termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, dengan jumlah 69 juta untuk pengguna facebook dan 50 juta untuk pengguna twitter. Tapi di negeri ini pula, orang masih sibuk berdebat soal ucapan selamat natal kepada penganut nasrani, perayaan valentine, produk yahudi, keyakinan agama, orientasi seksual, hingga urusan bakar kemenyan. Derasnya informasi yang bisa diakses lewat laju perkembangan teknologi yang dicerap oleh masyarakat Indonesia ternyata tidak berbanding lurus dengan keterbukaan pikir dan kerendahan hati untuk menerima hal “berbeda.”

Tapi di sisi lain, jejak kolektivitas dan solidaritas yang dibangun dalam komunitas-komunitas lokal dan kampung-kampung di Indonesia membuat masyarakat tetap mampu membangun “jaring pengaman” saat sesuatu yang “asing” mencoba mengobrak-abrik nilai kebersamaan.

Maka ketika bom meledak di Jl. MH Thamrin tanggal 14 Januari lalu dan segera setelahnya di media sosial orang beramai-ramai membuat tagar #kamitidaktakut disertai pemasangan foto para pedagang kaki lima yang tetap jualan di tengah hirukpikuk bom dan aksi saling kejar dan saling tembak antara pengebom dan polisi, saya teringat Pisani.

Saya juga mengingat Pisani, saat seorang menteri yang membidangi urusan riset dan teknologi, yang semestinya berpikir lebih rasional, mendadak menyebut kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) sebagai perusak moral bangsa. Pernyataan “aneh” ini, dengan nada yang sedikit berbeda, ikut-ikutan disampaikan oleh menteri pendidikan yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai seorang yang demokratis dan memiliki keterbukaan pikir, juga seorang walikota yang dikenal “progresif” dan berjiwa muda.

Setiap kali sebuah paradoks terjadi, saya teringat Pisani, pada adegan di sebuah kafe donat, ketika Pisani “dipaksa” antre di belakang para pembeli donat yang masih memilih donatnya, meski ia hanya membeli segelas kopi. Saat ia protes ke kasir, sang kasir menjawab dengan senyum ramah, “Ya, begitulah Indonesia.”

NO COMMENTS