Dunia Kecam Eksekusi Nimr

Dunia Kecam Eksekusi Nimr

Eksekusi Arab Saudi terhadap ulama terkemuka Syiah Sheikh Nimr al-Nimr berisiko memperburuk ketegangan sektarian, demikian AS memperingatkan. Eksekusi ini dikutuk barat dan Timur Tengah.

Para pemrotes di Teheran bereaksi dengan kemarahan, membakar kedutaan Arab Saudi. Juru bicara kementerian luar negeri AS, John Kirby, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa AS sangat mencemaskan eksekusi al-Nimr berisiko memunculkan “ketegangan sektarian yang menajam di saat justru seharusnya perlu dikurangi.”

Ia mengatakan AS menyerukan Arab Saudi untuk menjamin proses peradilan yang jujur dan mengizinkan ekspresi perbedaan pendapat yang damai dengan semua pemimpin komunitas untuk meredakan ketegangan setelah eksekusi.

Pembunuhan Nimr, seorang ulama yang kritis dalam keluarga kerajaan berkuasa di Arab Saudi, menimbulkan kemarahan internasional dan peningkatan ketegangan diplomatik di kawasan, dengan kerusuhan di wilayah-wilayah mayoritas Syiah.

Di Teheran, para pemrotes menerobos masuk ke kedutaan Arab Saudi Minggu dini hari dan mulai menyulut api sebelum dibubarkan polisi. Kementerian luar negeri Iran menyerukan para pemrotes untuk menghargai gedung-gedung diplomatik, menurut situs berita Entekhab, dan meminta mereka untuk tenang.

Para politikus Inggris, para pemimpin Irak dan Iran ada di antara yang mengutuk pembunuhan Nimr al-Nimr, yang menentang rezim Riyadh. Dia satu di antara 47 orang yang dieksekusi oleh otoritas Sunni Arab Saudi, Sabtu (2/1). Tidak ada informasi tentang cara eksekusi tapi metode yang biasa digunakan adalah pemenggalan kepala.

Sekretaris jenderal PBB Ban Ki-moon juga menyuarakan kegundahannya atas eksekusi Nimr dan menyerukan agar semua pihak tenang dan menahan diri.

Nimr, 56, mendorong protes damai di kalangan para pengikut. Sejak 2012 ia ditahan, dan kampanye pembebasannya yang didukung Sekjen PBB dan Amnesty International digencarkan.

Yaman menyebut eksekusi itu sebagai pelanggaran HAM dan kritik keras juga dilancarkan Pakistan, Afganistan dan India.

Ke-47 terhukum itu dituduh mengadopsi ideologi takfiri, bergabung dengan “organisasi teroris” dan melancarkan berbagai “plot kejahatan”, demikian pernyataan dari Arab Saudi. Mereka dieksekusi di 12 kota berbeda.

Eksekusi meningkat secara dramatis di kerajaan itu sejak Raja Salman berkuasa tahun lalu, setelah kematian Raja Abdullah. Jumlah yang dieksekusi pada 2 Januari lebih dari pada separuh angka yang dieksekusi sepanjang 2014 yaitu 87 orang, pada zaman Abdullah.