Dedi Mulyadi: Syariat Islam Tak Perlu Perda

SHNet, Purwakarta – Makna Syariat Islam yang sejati menurut Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, adalah amal saleh atau tindakan kebaikan untuk memenuhi hajat-hajat mendasar rakyat, sebagaimana Nabi Muhammad Saw menjadikan Islam sebagai jawaban konkret di zamannya.

Tujuan Syariat Islam adalah membawa maslahat, maka yang terpenting setiap langkah perjuangan penegakan Syariat Islam harus bisa membuktikan hasilnya dalam karya nyata, bukan sebatas mengupayakan Peraturan Daerah atau aturan formal prosedural, apalagi hanya menonjolkan simbol-simbol keislaman semata.

Hal ini dikatakan Dedi Mulyadi dalam perbincangan di pendopo Purwakarta, Senin (11/1). Menurut Dedi Mulyadi, Purwakarta pernah punya pengalaman dalam penerapan Syariat Islam yang mengedepankan formalisme dengan slogan Tasbeh ( Tertib, Aman, Sehat, Bersih, Hidup)  di masa lalu. Hal ini dinilai oleh Dedi Mulyadi sebagai pengalaman yang tak perlu diulangi.

“Ketika syariat-Islam diformalkan dengan slogan-slogan dan peraturan legal justru kehilangan substansi karena setelah formalisme diterapkan, tidak ada amal tindakan. Semuanya semu,” ungkapnya.

Menurut bupati yang juga aktivis Nahdlatul Ulama Purwakarta ini, jika ada yang ingin mengembalikan Purwakarta sebagai kota Tasbeh itu justru sedang mengajak mundur. “Yang ingin Purwakarta kembali dengan Tasbeh itu jangan-jangan mereka justru ingin maksiat terus berlangsung,” katanya.

Sebab menurut Dedi Mulyadi, saat Purwakarta menjadi Kota Tasbeh saat itu banyak pelanggaran Syariat di masyarakat. Kota tidak nyaman karena kumuh, perhatian terhadap pesantren lemah, kegiatan keagamaan tidak memiliki arah, judi dan mabuk-mabukan terjadi di mana-mana, banyak bencong dan pelacur berkeliaran, preman-preman tiap malam gentayangan.

“Sebagai orang Islam, saya konsisten bahwa Syariat Islam harus tegak di Purwakarta. Nilai-nilai ajaran Islam nilainya harus diamalkan karena mayoritas warga Purwakarta beragama Islam. Dan saya sebagai bupati yang beragama Islam punya kewajiban menegakkan ajaran Islam, ajaran nabi Muhammad yang saya kagumi. Tetapi kalau menegakkan Syariat Islam sebagai stempel, sebagai slogan, atau kampanye politik itu menurut saya adalah pelanggaran terhadap syariat itu sendiri,” terangnya.

Ikhtiar Dedi Mulyadi menegakkan ajaran Islam adalah dengan mewujudkan nilai-nilai keislaman dalam bingkai keindonesiaan. Karena itulah ia selalu mempertimbangkan strategi kebudayaan sebagai perjuangan mengusung nilai-nilai luhur keislaman. Dengan menegakkan nilai-nilai keIslaman yang sudah diperjuangkan beberapa tahun tersebut antara lain terbukti tidak ada sampah di pinggir jalan karena kebersihan adalah cermin peradaban manusia dan kekotoran adalah jalan penyakit, jalan neraka yang membuat kehidupan tidak nyaman.

Kedua, menurut Dedi Mulyadi, tidak boleh ada aliran sungai yang tersumbat dan dikotori pencemaran karena dampak buruknya luar biasa, bisa menyebatkan sekian masalah besar bagi lingkungan bahkan nyawa manusia akibat banjir.

Ketiga, tidak boleh ada aliran air yang terhambat dan jadi sarang nyamuk yang menularkan cikungunya, malaria, demam berdarah dan seterusnya. Lingkungan harus bebas madarat apalagi menyangkut nyawa manusia. Sebab salah satu esensi Syariat-Islam adalah melindungi nyawa manusia.

Keempat, tidak boleh ada orang yang tidak makan. Menurut Dedi Mulyadi ini adalah tugas utama dalam pemimpin beragama Islam karena kehadiran Islam diperuntukkan untuk menegakkan keadilan dan nabi selalu hidup bersama orang-orang yang sengsara dan mengabdi untuk kehidupan mereka.

“Islam tidak mengajarkan orang untuk hanya membangun egoisme spiritual secara personal tapi melupakan kesengsaraan tetangga-tetangganya. Inilah kesempurnaan yang sesungguhnya dan Islam mengajarkan,” terangnya.

Berguru pada Ulama NU

Dedi Mulyadi menyerap pemahaman Syariat Islam itu dari kaidah-kaidah para kiai, terutama kiai-kiai Nahdlatul Ulama yang sering menganjurkan perjuangan keislaman secara substansial. Ia banyak memahami keislaman yang lurus dari KH. Abdurrahman Wahid yang selalu mengutamakan perjuangan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

“Gus Dur itu manusia kreatif. Kreativitasnya berpolitik digunakan untuk pengabdian kepada kepentingan mayoritas. Itulah mengapa ia selalu banyak berseberangan dengan para politisi, termasuk teman-temannya sendiri karena yang ia perhitungkan adalah mayoritas umat. Saya ingat betul nasehat beliau agar pemimpin selalu mengedepankan kebijakan para pemimpin kepada rakyatnya harus membawa maslahat. Maslahatnya tentu untuk umat mayoritas. Sebab kalau tidak untuk mayoritas otomatis akan berdampak madarat, ” paparnya.

Bupati yang dikenal hidup sederhana dan tidak gengsian ini menilai apa yang dilakukan Nabi Muhammad Saw sepanjang hidupnya terus mengabdikan perintah Tuhannya sebagai pelayan umat. Nabi Muhammad, menurut Dedi Mulyadi, selalu melayani siapa saja yang membutuhkan seperti orang-orang miskin, orang-orang nomad, atau musafir, yatim-piatu, janda-janda memelas. Mereka semua mendapatkan pelayanan darinya.

“Nabi Muhammad mengurangi tidur, mengurangi makan, mengurangi aktivis aktivitas kehidupan personalnya karena waktunya didedikasikan untuk kaum papa,” demikian Dedi Mulyadi. (Abdul Karim)

NO COMMENTS